Definisi Self Efficacy (Efikasi Diri) Menurut Para Ahli

Home // Teori Psikologi // Definisi Self Efficacy (Efikasi Diri) Menurut Para Ahli

Apa itu self efficacy? Apa faktor pembentuknya? Apa variabel terkait efikasi diri? Kita bahas semua di sini.

Nengsih termangu membaca whatsapp dari sahabatnya, Rani. Laptop yang sedari tadi menampilkan film korea dia abaikan.

Sahabatnya itu baru saja dapat beasiswa ke luar negeri! Ia pun, dalam whatsapp-nya, memberi semangat pada Nengsih untuk ikut mengirimkan permohonan beasiswa di perusahaan yang sama.

Nengsih termenung. Dua bulan yang lalu, dia tidak yakin bahwa dia bisa dapat beasiswa ke luar negeri seperti yang terpampang di poster di kampusnya. Alasannya simpel: dia sadar dia nggak terlalu pintar. Dia biasa aja.

Tapi kini dia merasa dia juga bisa. Kenapa nggak? Rani bahkan nggak sepintar dia. Bergegas film korea itu ia tutup, ia segera menyusun form aplikasi untuk ia kirimkan.

Perasaan apa ini? Mengapa ia mendadak merasa mampu seperti ini?

Itu tadi, sahabatku, adalah self efficacy.
Tulisan panjang ini bakal ngajak kamu untuk tahu lebih dalam tentang self efficacy, penyebabnya, ciri-cirinya, dan kaitannya dengan variabel lain.

Siap?

 

Definisi self efficacy

teori: self efficacy merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan diri individu mengenai kemampuannya untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk mencapai kecakapan tertentu [1]

Menurut Bandura (1986), efikasi diri adalah kepercayaan individu akan kemampuannya untuk sukses dalam melakukan sesuatu.

Self Efficacy menurut Santrock (2007) adalah kepercayaan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai situasi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan.

Niu (2010) menyebut self efficacy adalah hasil interaksi antara lingkungan eksternal, mekanisme penyesuaian diri serta kemampuan personal, pengalaman dan pendidikan.

Stipek (2001, dalam Santrock, 2007) menjelaskan bahwa self efficacy adalah kepercayaan seeorang atas kemampuannya sendiri. [2]

Jadi bisa dibilang self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai sejauh mana ia mampu mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan merencanakan tindakan untuk mencapai suatu goal.

Ketika seseorang mempunyai self efficacy tinggi, dia tahu bahwa ia bisa mengerjakan suatu hal.

apa bedanya self efficacy dengan optimisme?

 

 

Jadi, apa faktor pembentuk self efficacy?

Menurut Bandura, ada empat penyebab kenapa seseorang bisa punya self efficacy tinggi atau rendah. Empat hal itu adalah pengalaman yang menetap, pengalaman yang dirasakan sendiri, bujukan sosial, dan keadaan psikologis. Kita bahas satu persatu yes.

 

a. Pengalaman yang menetap.

Jadi peristiwa di masa lalu bisa menentukan self efficacy seseorang.

Misalnya nih kamu dulu pernah ngedeketin cewek, terus ehh berhasil jadian.
Pengalaman pernah jadian ini bikin kamu ngerasa bisa ngedeketin cewek. Kamu ngerasa kalo naksir cewek, kamu sanggup kok ngedeketin. Self efficacy kamu dalam ngedeketin cewek pun menjadi tinggi.

Beda cerita kalo kamu ngedeketin cewek tapi bolak balik gagal. Dengan gitu kamu akan ngerasa nggak sanggup ngedeketin cewek, dan berencana untuk berkembang biak melalui stek batang saja.

Perasaan tidak sanggup ini adalah tanda bahwa self efficacy kamu rendah.

Ohya, usaha dalam melaksanakan tugas juga mempengaruhi self efficacy nih. Kalo misalnya kamu berhasil melakukan sesuatu dengan usaha minim, maka self efficacy kamu akan suatu hal menjadi tinggi.

 

b. Pengalaman yang kamu rasakan sendiri.

Kamu pernah nggak punya seorang temen yang kamu anggap kemampuannya setara denganmu?

Kemudian kamu melihat dia melakukan suatu hal dan berhasil.

Saat itu kamu mikir,”lah kalo dia bisa berarti aku harusnya juga bisa dong”

Saat kamu mikir gitu, berarti self efficacy kamu udah terpengaruh. Jadi, self efficacy bisa dipengaruhi dengan perbandingan antara kamu dengan orang lain.

c. Pendapat orang lain

Bayangin kamu punya pacar.
Kalo kamu mentok mengerjakan suatu hal, terus dia senyum ke kamu sambil bilang “semangat sayang, kamu pasti bisa kok”, apa perasaanmu?

Berasa jadi semangat kan? Kalo udah dibilang “pasti bisa” gitu rasanya kamu pun jadi yakin kalo kamu bisa.

Ini tandanya pendapat orang lain dapat mempengaruhi self efficacy.
Tapi secara umum, menurunkan self efficacy lebih gampang dibanding meningkatkannya.

d. Keadaan psikologis.

Kalo lagi bete, lagi suntuk, lagi sedih, rasanya jadi males ngapa-ngapain. Nulis skripsi juga emoh banget.

Kalo hati lagi berbunga-bunga, lagi hepi… hmmmm rasanya bisa deh bikin skripsi dua jilid dari abis maghrib sampe sebelum imsak.

Begitulah, kondisi psikologis bisa mempengaruhi self efficacy kamu.

Gimana seseorang disebut memiliki self efficacy tinggi?

 

yaa ketika dia tahu sejauh mana kemampuannya dalam mengerjakan tugas.
seseorang dikatakan punya self efficacy tinggi kalo dia tahu kelebihan dan kekurangannya dalam suatu tugas.

jadi seseorang dengan self efficacy tinggi tidak cuma pede, tapi dia juga mawas diri.
dia juga merencanakan suatu tindakan untuk menutupi kekurangannya, supaya dia ngedapetin target yang sudah dia tentukan.

Self efficacy ini penting banget dimiliki, karena ia berkaitan dengan ketekunan dan pengembangan diri.

Bayangin kamu seorang pemain gitar . Kamu mau melatih skillmu tapi gak punya mentor. Ketika kamu punya self efficacy tinggi dalam dadamu (lah lebay), kamu akan sadar skillmu sudah sejauh mana. Baru sampai mana progressmu. Kamu juga tau kelemahanmu.

Dengan gitu, kamu jadi tau apa aja yang masih bisa kamu kembangin, dan kekuranganmu di bagian mana yang perlu kamu tutupi. Orang dengan self efficacy tinggi tuh bisa menilai dan memberi evaluasi pada dirinya sendiri. Hal ini akan gampang dia lakukan, karena dia memang merasa sanggup. Ini membuat dia menjadi gak cepet puas dan selalu pengen lebih.

Ada nggak sih skala self efficacy?

Ada banyak penelitian tentang efikasi diri, dan alat ukur biasanya berupa skala yang dibuat sendiri.

Alat ukur yang bisa kamu pake (kalo males bikin sendiri) adalah General Self Efficacy Scale punya Born, Schwarzer, dan Jerusalem (1995).

Kalo gak salah ada deh versi adaptasinya ke Bahasa Indonesia.

 

Apa variabel lain terkait self efficacy?

Macem-macem sih. Kalo kamu mau menjadikan self efficacy sebagai variabel terikat, kamu bisa baca lagi ke faktor-faktor pembentuk self efficacy dan cek kejadian apa nih yang biasa terjadi di masyarakat.

Kamu bisa mengaitkannya dengan tipe kepribadian. Apakah introvert dan ekstrovert bisa memengaruhi self efficacy seseorang?

Atau, mungkin nggak self efficacy antara satu ras dan ras lain berbeda?

Mungkin nggak sih pola asuh mempengaruhi efikasi diri?

Atau kamu bisa membandingkan komunikasi pada dua perusahaan dan pengaruhnya pada self efficacy karyawan dalam mengerjakan tugas.
Kalo komunikasi interpersonal antara atasan dan bawahan bagus, apakah itu mempengaruhi self efficacy bawahannya dalam bekerja?

Terus kalo kamu menjadikan self efficacy sebagai variabel bebas.

Apakah self efficacy berdampak pada burnout?
Bisakah ini  mempengaruhi tingkat stres?
Apakah efikasi diri bisa mempengaruhi intensitas prokrastinasi seseorang?

link jurnal terkait
Dale Schunk: self efficacy and academic motivation

Hubungan antara self efficacy dengan kreativitas pada siswa SMK

Hubungan antara Self Efficacy dengan Kematangan Karir pada Mahasiswa Tingkat Awal dan Tingkat Akhir di Universitas Surabaya  

Gitu aja dulu tulisan kami tentang efikasi diri. Kalo ada yang kurang, boleh banget ditambahin.

Sampai jumpa!

40 thoughts on “Definisi Self Efficacy (Efikasi Diri) Menurut Para Ahli”

    • efikasi diri itu lebih spesifik dibandingkan self confidence. kalo efikasi diri itu kepercayaan diri terhadap sesuatu yang spesifik. misalnya ada seseorang yang mungkin pemalu, tapi dia pede dengan kemampuan belajarnya. kepedean terhadap kemampuan belajar ini disebut efikasi diri atau self efficacy. kalo self confidence sendiri ya kepercayaan diri seseorang secara umum.

      Reply
  1. bagaimana cara mengetahui orang itu punya self efikasi?

    Reply
  2. kak ada bahas tentang self regulated learning nggak ya? bahas2 kayak diatas dong. haturnuhun ilmunya

    Reply
  3. halo ka mau tanya, saya ingin membuat penelitian mengenai hubungn efikasi diri dan kecerdasan emosional pada karyawan , boleh diberi gambaran kak? benang merahnya bagaimana ya kak?

    Reply
    • efikasi diri berarti kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri. efikasi diri dapat dibentuk melalui beberapa faktor, dan salah satunya adalah keadaan psikologis. keadaan psikologis bisa mempengaruhi fluktuasi efikasi diri, namun apabila memiliki kecerdasan emosional yang baik, keadaan psikologis bisa dikontrol terlepas dari situasi yang dialami. artinya, melalui kecerdasan emosional yang baik, efikasi diri dapat tercipta. ada hubungan positif antara keduanya.

      ini saya pake logika aja ya. kamu bisa cari teori tentang manfaat kecerdasan emosional untuk memperkuat statemen ini.

      Reply
      • sangat membantu sekali Ka bacaannya bagi saya yg bukan mahasiswa psikologi tp memilih ambil judul skripsi tentang efikasi diri, Ka jikalau boleh, saya izin meminta ebook atau bacaan tentang efikasi diri Ka untuk referensi, punten Ka bisa minta tlong dikirim ke email fitriazza341@gmail.com. terimakasih sebelumnya Ka

        Reply
        • wah gak ada, jurnal efikasi bisa cari di neliti atau google scholar. banyak kok. atau ketik aja jurnal efikasi diri pdf.

          Reply
          • okee siappp Ka. Ka punten izin nanya lagi, untuk skor efikasi diri rendah kisaran berapa, kalo tinggi kisaran berapa, itu ada ngga ya ka?, saya belum nemu nemu lagi soalnya

    • regulasi diri itu kemampuan mengelola perasaan dan pikiran, kalo efikasi diri itu keyakinan akan kemampuan diri sendiri pada satu bidang tertentu.

      Reply
  4. Kak bagaimana self efficacy mempengaruhi kecemasan seseorang dalam menjalankan tugas dan mengapa peran efficacy ini penting dalam kecewa?

    Reply
    • kurang lebih sih efikasi diri atau keyakinan diri bisa membantu seseorang menguatkan dan meyakinkan dirinya dalam mengerjakan tugas. kekuatan dan keyakinan diri mungkin nggak menghalangi perasaan cemas, tapi rasa cemas itu nggak mempengaruhi performanya karena dia udah yakin sama kapasitas dirinya dalam mengerjakan tugas itu.

      Reply
    • efikasi diri kan artinya keyakinan seseorang terhadap kemampuannya di satu bidang tertentu.
      keyakinan adalah bentuk general atau luasnya, alias sikap meyakini suatu ide atau pikiran.

      kalo ditarik benang merahnya ya sikap adalah respons terhadap stimulus, keyakinan adalah suatu bentuk sikap, dan efikasi diri adalah suatu bentuk keyakinan.

      Reply

Leave a Comment