Pengertian Remaja dalam Psikologi Perkembangan

Home // Kamus Psikologi // Pengertian Remaja dalam Psikologi Perkembangan

Kali ini kita akan membahas pengertian remaja menurut para ahli, serta berbagai masalah dan definisi remaja dalam psikologi perkembangan menurut Jean Piaget.

 

Pengertian Remaja Menurut Para Ahli

WHO mendefinisikan “remaja” sebagai individu berusia 10-19 tahun dan “pemuda” sebagai berusia 15-24 tahun. Sementara, orang muda berkisar antara 10-24 tahun.

Pengertian remaja menurut Erikson (dalam Leifer, 2011): masa remaja adalah periode kehidupan yang dimulai dengan munculnya karakteristik seks sekunder dan berakhir dengan berhentinya perkembangan tubuh serta kedewasaan emosional.

Ernst dkk (2011) menyebut bahwa masa remaja adalah periode perkembangan yang kritis. Di fase ini, konsep diri berkembang dan dibangun, serta mengalami pergantian. Ini akibat dari faktor internal dan eksternal. Dalam masa ini, motivasi dan tujuan mulai menjadi dasar perilaku.

Remaja juga mengembangkan kapasitas kognitif dan metakognitif. Ini bikin remaja jadi bisa berpikir abstrak, menciptakan identitas diri dalam kelompok (Nakkula and Toshalis 2006).

Remaja dalam psikologi adalah fase perkembangan manusia pada periode sekitar 10 hingga 20 tahun.

Kata adolescence berasal dari bahasa Latin, berasal dari kata kerja adolescere, yang berarti “tumbuh menjadi dewasa.” Di semua jenis masyarakat, masa remaja adalah masa tumbuh kembang, bergerak dari ketidakdewasaan masa kanak – kanak ke periode kedewasaan.

Nggak ada satu peristiwa atau garis batas yang menunjukkan akhir masa kanak-kanak atau awal kedewasaan.

 

Seperti apa perkembangan individu di masa remaja?

Para ahli menganggap fase dari masa kanak-kanak menuju dan melewati masa remaja sebagai serangkaian transisi yang berkembang secara bertahap dan menyentuh banyak aspek mulai dari perilaku, perkembangan, hingga hubungan individu.

Transisi ini bersifat biologis, kognitif, sosial, dan emosional.

 

2.1 Pengertian remaja: Perkembangan Biologis Remaja

Transisi biologis pada fase remaja, atau pubertas , adalah tanda paling menonjol bahwa fase remaja telah dimulai.

Secara teknis, pubertas mengacu pada periode di mana seseorang memiliki kapabilitas buat melakukan reproduksi seksual.

Akan tetapi, secara lebih luas, pubertas digunakan sebagai istilah kolektif buat merujuk pada semua perubahan fisik yang terjadi pada anak perempuan atau laki-laki yang tumbuh ketika individu berpindah dari masa kanak-kanak ke dewasa.

Waktu pematangan fisik sangat bervariasi. Di Indonesia saat ini, menarche, atau periode menstruasi pertama , biasanya terjadi sekitar usia 12, meskipun beberapa anak mulai pubertas ketika mereka baru berusia delapan atau sembilan tahun, yang lain ketika mereka memasuki usia remaja.

Durasi pubertas juga sangat bervariasi: delapan belas bulan hingga enam tahun pada anak perempuan dan dua hingga lima tahun pada anak laki-laki.

Perubahan fisik pubertas dipicu oleh hormon , zat kimia dalam tubuh yang bekerja pada organ dan jaringan tertentu. Pada anak laki-laki perubahan besar adalah peningkatan produksi testosteron, hormon seks pria, sementara anak perempuan mengalami peningkatan produksi hormon estrogen wanita.

Pada kedua jenis kelamin, kenaikan hormon pertumbuhan menghasilkan percepatan pertumbuhan remaja , peningkatan tinggi dan berat badan yang menandai paruh pertama masa pubertas ini.

Secara internal, melalui pengembangan karakteristik seksual primer, remaja menjadi mampu melakukan reproduksi seksual.

Secara eksternal, ketika karakteristik seksual sekunder muncul, anak perempuan dan laki-laki mulai keliatan kayak wanita dewasa dan pria dewasa.

Pada anak laki-laki, karakteristik seksual primer dan sekunder biasanya muncul dalam urutan yang dapat diprediksi, dengan pertumbuhan testis dan skrotum yang cepat, yang diiringi oleh munculnya rambut kemaluan.

Sekitar setahun kemudian, ketika percepatan pertumbuhan dimulai, penis juga tumbuh lebih besar, dan rambut kemaluan menjadi lebih kasar, lebih tebal, dan lebih gelap. Kemudian muncul pertumbuhan rambut wajah dan tubuh, dan memberatnya suara secara bertahap.

Sekitar pertengahan remaja perubahan internal mulai bikin seorang anak laki-laki mampu memproduksi dan mengejakulasi sperma.

Pada anak perempuan, karakteristik seksual berkembang dalam urutan yang kurang teratur. Biasanya, tanda pubertas pertama adalah munculnya payudara, tetapi kadang-kadang ini didahului oleh penampilan rambut kemaluan. Rambut kemaluan berubah dari jarang dan berbulu halus menjadi lebih lebat dan kasar.

Bersamaan dengan perubahan ini adalah perkembangan payudara lebih lanjut. Pada gadis remaja , perubahan seksual internal meliputi pematangan rahim, vagina, dan bagian lain dari sistem reproduksi.

Menarche, periode menstruasi pertama, terjadi di ujung fase pubertas, bukan pada awal pubertas kayak yang diyakini banyak orang. Menarche kemudian disusul ovulasi teratur dan akhirnya adalah kemampuan buat mengandung bayi hingga cukup bulan.

Selama bertahun-tahun, para psikolog percaya bahwa pubertas menciptakan tekanan bagi kaum muda.

Namun, kesulitan apa pun yang terkait dengan penyesuaian diri pada masa pubertas bisa diminimalisir kalo remaja tahu perubahan apa yang diharapkan dan memiliki sikap positif dalam menghadapinya.

Meskipun dampak langsung dari pubertas pada citra diri remaja dan suasana hati mungkin sangat sederhana, waktu pematangan fisik dapat sangat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional remaja.

Anak yang secara fisik mengalami pematangan lebih awal akan cenderung lebih populer, memiliki konsepsi diri yang lebih positif , dan lebih percaya diri daripada teman sebayanya yang belum melalui fase pematangan.

 

2.2 Pengertian remaja: Perkembangan remaja secara kognitif

Elemen kedua dari melalui masa remaja adalah transisi kognitif. Kalo dibandingkan dengan fase sebelumnya, remaja berpikir secara lebih maju, efisien, dan umumnya lebih kompleks. Ini bisa dilihat dari lima cara.

Pada masa remaja, individu lebih mampu berpikir tentang apa yang mungkin bisa dilakukan, bukannya membatasi pemikiran mereka pada apa yang keliatan.

Apabila pemikiran anak-anak berorientasi pada apa yang ada saat ini dan sekarang — yaitu , hal-hal dan peristiwa yang bisa mereka amati secara langsung, remaja bisa mempertimbangkan apa yang mereka amati dan menghubungkannya dengan apa yang mungkin. Mereka dapat berpikir secara hipotetis.

Kedua, pada fase masa remaja, individu menjadi lebih mampu memikirkan ide-ide abstrak. Sebagai contoh, remaja lebih mudah memahami jenis-jenis logika abstrak. Remaja lebih bisa memahami permainan kata-kata, provokasi, perumpamaan, dan permisalan.

Kemampuan berpikir abstrak yang lebih baik ini juga memungkinkan penerapan penalaran yang maju dan mampu memikirkan masalah yang lebih kompleks, kayak sosial dan ideologis.

Ini  keliatan jelas dalam peningkatan kemampuan dan ketertarikan dalam memikirkan hubungan interpersonal , politik, filsafat, agama, dan moralitas — topik yang melibatkan konsep abstrak kayak persahabatan, iman, demokrasi, keadilan, dan kejujuran.

Ketiga, pada masa remaja, individu mulai bisa memahami tentang kemampuan berpikir dan mengendalikan konsentrasinya dengan lebih baik. Ia bisa lebih memahami tentang apa itu berpikir, atau metakognisi.

Akibatnya remaja mampu berintrospeksi dan lebih mawas diri.

Meskipun peningkatan dalam kemampuan metakognitif memberikan keuntungan intelektual yang penting, salah satu produk sampingan yang berpotensi negatif dari kemajuan ini adalah kecenderungan bagi remaja buat mengembangkan semacam egosentrisme, atau lebih tertarik mengurusi diri sendiri.

Egosentrisme remaja akut kadang-kadang bikin remaja percaya bahwa orang lain terus menerus mengamati dan mengevaluasi mereka, sama kayak penonton yang memberikan perhatiannya pada aktor di atas panggung.

Psikolog menyebut ini sebagai audiens imajiner.

Perubahan keempat dalam kognisi adalah bahwa berpikir cenderung menjadi multidimensi, bukan terbatas pada satu masalah aja. Kalo anak-anak cenderung memikirkan satu hal pada satu waktu, remaja bisa melihat permasalahan melalui sudut pemikiran yang lebih rumit.

Remaja melihat diri mereka sendiri dan orang lain dalam penggolongan yang berbeda-beda, dan mereka merasa melihat masalah dari berbagai perspektif adalah cara yang lebih baik.

Mampu memahami bahwa kepribadian orang nggak hitam-putih, atau bahwa situasi sosial dapat memiliki interpretasi yang berbeda, tergantung pada sudut pandang seseorang, memungkinkan remaja memiliki hubungan yang jauh lebih rumit dengan orang lain.

Akhirnya, remaja lebih cenderung melihat hal-hal sebagai relatif, daripada absolut. Anak-anak cenderung melihat segala sesuatu secara absolut — hitam putih. Sebaliknya, remaja cenderung melihat sesuatu sebagai hal yang relatif. Mereka lebih cenderung mempertanyakan pernyataan orang lain dan cenderung menerima “fakta” sebagai kebenaran absolut.

Peningkatan pola pikir ini bisa sangat menjengkelkan bagi orang tua, yang mungkin merasa bahwa anak-anak remaja mereka mempertanyakan segalanya hanya buat berargumen.

 

2.3 Pengertian remaja: Perkembangan remaja secara psikologis

Selain sebagai masa perubahan biologis dan kognitif, masa remaja juga merupakan periode transisi emosional dan, khususnya, perubahan dalam cara individu memandang diri sendiri dan dalam kemampuan mereka buat mandiri.

Selama masa remaja, ada sebuah perubahan penting yang terjadi dalam cara individu memikirkan dan mengkarakterisasi diri mereka sendiri — yaitu, mengenai konsep diri mereka.

Ketika individu menjadi dewasa secara intelektual dan mengalami berbagai macam perubahan kognitif yang dijelaskan sebelumnya, mereka mulai merasakan dirinya dengan cara yang berbeda.

Dibandingkan dengan fase kanak-kanak, yang cenderung melihat diri mereka dalam cara yang relatif sederhana, remaja lebih mulai mengenali diri mereka dengan sudut yang lebih kompleks dan abstrak.

Ketika konsep diri individu menjadi lebih abstrak dan mereka menjadi lebih mampu melihat diri mereka sendiri secara psikologis, mereka menjadi lebih tertarik buat memahami kepribadian mereka sendiri dan mengapa mereka berperilaku kayak itu.

Anggapan masyarakat adalah remaja memiliki self-esteem yang rendah. Mereka cenderung merasa nggak aman dan mengkritisi diri sendiri. Meski demikian, penelitian menunjukkan sebaliknya.

Meskipun perasaan remaja tentang diri mereka mungkin naik turun, terutama selama masa remaja awal, harga diri mereka cukup stabil sejak usia 13 dan seterusnya. Self-esteem akan meningkat selama masa remaja pertengahan dan akhir.

Di usia remaja, individu akan memiliki rasa kepercayaan diri yang naik turun bergantung pada konteks yang sedang dihadapi.

Seorang remaja mungkin akan memiliki Self-esteem tinggi di kemampuan akademiknya, namun mungkin self-esteemnya rendah di bidang atletik, dan mungkin moderat di bidang penampilan fisiknya.

Salah satu ahli teori yang karyanya sangat berpengaruh pada pemahaman kita tentang konsep-diri remaja adalah Erik Erikson , yang berteori bahwa pembentukan rasa identitas yang koheren adalah tugas utama psikososial masa remaja.

Erikson meyakini bahwa tuntutan buat segera mengembangkan identitas dalam masyarakat modern bikin diperlukan adanya moratorium psikososial — fase di mana masa remaja dibebaskan dari tanggung jawab dan kewajiban yang berlebihan, agar bisa mencari dan menemukan jati dirinya.

Menurut Erikson, dengan adanya moratorium psikososial, remaja bisa bereksperimen dengan peran dan identitas yang berbeda , dalam konteks yang memungkinkan dan mendorong pengembangan semacam ini.

Eksperimen melibatkan mencoba berbagai perilaku dan cara berperilaku.

Bagi sebagian besar remaja, membangun rasa otonomi, atau kemandirian, adalah bagian penting dari transisi emosional dari masa kanak-kanak kayak halnya membangun rasa identitas. Selama masa remaja, ada keinginan buat terlepas dari ketergantungan khas masa kecil menuju kemandirian layaknya masa dewasa.

Secara umum, peneliti menemukan bahwa kemampuan pengambilan keputusan meningkat selama masa remaja , dengan hasil yang terus berlanjut hingga tahun-tahun terakhir sekolah menengah.

Banyak orang tua bertanya-tanya tentang kerentanan remaja terhadap peer pressure.

Sebenarnya, penelitian mengenai pengaruh orang tua dan teman sebaya menunjukkan bahwa dalam beberapa situasi, pendapat teman sebaya lebih berpengaruh, sedangkan dalam situasi lain, pendapat orang tua lebih berpengaruh.

Khususnya, remaja lebih cenderung menyesuaikan diri dengan pendapat teman sebaya mereka buat masalah jangka pendek, sehari-hari, dan sosial — gaya berpakaian, selera musik, dan pilihan mengenai tempat rekreasi.

Hal ini terutama berlaku selama SMP dan tahun-tahun awal SMA. Namun, ketika membicarakan pertanyaan jangka panjang mengenai rencana pendidikan atau pekerjaan, atau nilai nilai, kepercayaan agama, dan masalah etika, remaja dipengaruhi secara besar-besaran oleh orang tua mereka.

Pengaruh orang tua dan teman akan berubah seiring perkembangan usia. Secara umum, selama masa kanak-kanak, anak sangat berorientasi pada orang tua mereka dan kurang terhadap teman-teman mereka; tekanan teman sebaya selama tahun-tahun awal sekolah dasar nggak terlalu kuat.

Ketika mereka mendekati masa remaja, anak-anak menjadi kurang mendengarkan orang tua mereka dan lebih memberatkan persepsi dan opini dari teman.

Selama masa remaja awal, konformitas dengan orang tua akan terus menurun sementara konformitas dengan teman sebaya terus meningkat. Nggak sampai di fase remaja pertengahan, maka, kemandirian akan muncul, diikuti dengan menurunnya konformitas terhadap orang tua dan teman sebaya.

 

2.4 Perubahan Sosial di Masa Remaja

Setelah adanya perubahan biologis, kognitif, dan emosional, ada transisi sosial remaja .

Para psikolog perkembangan memetakan perubahan yang terjadi dengan teman-teman dan anggota keluarga ketika individu tersebut memasuki masa remaja.

Salah satu aspek yang paling penting dari perubahan sosial ke masa remaja adalah peningkatan jumlah waktu yang dihabiskan individu dengan rekan-rekan mereka.

Meskipun hubungan dengan teman telah ada jauh sebelum remaja, tetapi pada masa remaja mereka berubah lebih signifikan dan terstruktur. Ada empat perkembangan yang menonjol.

  1. Pada masa remaja ada perubahan dalam jumlah waktu yang dihabiskan buat bersama-sama dengan teman.
  2. Selama masa remaja, kelompok sebaya bisa berfungsi dan bekerja lebih mandiri tanpa membutuhkan pengawasan orang dewasa, dibandingkan yang selama masa kanak-kanak.
  3. Selama masa remaja akan terjadi kontak dengan teman sebaya lain jenis.
  4. Dibandingkan dengan hubungan teman sebaya anak-anak terbatas terutama pada pasangan teman dan kelompok yang relatif kecil — tiga atau empat anak sekaligus, misalnya — masa remaja menandai munculnya kelompok teman sebaya yang lebih besar. Ada geng atau klik yang mereka ciptakan sendiri. Kelompok ini memiliki stereotip yang sama, dikumpulkan oleh minat atau ciri-ciri serupa. Akan ada istilah-istilah tertentu buat masing-masing kelompok ini, kayak culun, gaul, bad boy, dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok ini nggak difungsikan sebagai tempat interaksi khusus atau wadah persahabatan, tetapi berfungsi agar remaja memiliki tempat atau pengakuan dalam struktur pergaulan di sekolah.

Lingkungan sekolah dan remaja di dalamnya secara alami membentuk semacam hierarki sosial, dan para remaja memiliki tingkat status atau kepentingan yang berbeda.

Teman sebaya selama masa remaja awal memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan individu buat berteman dekat dan memiliki sahabat.

Saat anak-anak mulai berbagi rahasia dengan teman-teman mereka, di masa remaja, ada keinginan buat menjadi loyal dan berkomitmen terhadap pertemanan tersebut. Diterima dan diakui oleh teman sebaya adalah keinginan di masa ini. Dan buat mencapai keinginan itu, mereka mencoba loyal terhadap kelompok, melakukan hal-hal yang disukai teman sebaya, dan menyamakan diri dengan teman.

Remaja, terutama cewek, menghabiskan waktu berjam-jam buat mendiskusikan pikiran dan perasaan terdalam mereka , mencoba memahami satu sama lain. Kesadaran bahwa mereka cenderung berpikir dan merasakan hal yang sama dengan teman menjadi dasar penting munculnya suatu bestie.

Salah satu perubahan sosial terpenting yang terjadi pada masa remaja adalah munculnya hubungan seksual dan romantis. Di masa ini pula individu mulai merasakan ketertarikan dengan lawan jenis dan mulai berpacaran.

Pacaran dapat ditunjukkan dengan cara yang berbeda, dari kegiatan kelompok yang menyatukan laki-laki dan perempuan (tanpa banyak kontak nyata antara kedua jenis kelamin); pacaran berkelompok, di mana sekelompok anak laki – laki dan perempuan pergi bersama-sama (dan menghabiskan sebagian waktu sebagai pasangan dan sebagian waktu dalam kelompok besar); hingga pacaran kasual sebagai pasangan.

Pengalaman pertama sebagian besar remaja dengan seks termasuk dalam kategori “perilaku autoerotik” – perilaku seksual yang dialami sendiri. Aktivitas autoerotik yang paling umum dilaporkan oleh remaja adalah fantasi erotis dan masturbasi.

Pada saat sebagian besar remaja telah mencapai sekolah menengah, mereka telah memiliki beberapa pengalaman kontak tubuh dengan lawan jenis, kayak misalnya bergandengan tangan atau merangkul, hingga melakukan kontak seksual.

Meskipun agama dan norma menyulitkan buat mengeneralisasi usia “rata-rata” di mana remaja memulai hubungan seksual, sebuah survey menunjukkan bahwa remaja kini telah lebih berani buat melakukan hubungan seksual dibanding sebelumnya.

Selama bertahun-tahun, para peneliti mempelajari karakteristik psikologis dan sosial remaja yang melakukan hubungan seks pranikah, dengan dugaan bahwa remaja yang aktif secara seksual cenderung lebih nakal dibandingkan dengan yang nggak.

Meski secara norma di Indonesia melarang dan menyayangkan hal ini, tapi nggak bisa disangkal bahwa aktivitas seksual remaja sekarang udah biasa.

Masa remaja awal merupakan periode perubahan dan reorganisasi  hubungan keluarga yang signifikan.

Di sebagian besar keluarga modern, remaja beranjak dari posisi yang dianggap anak kecil, menjadi memiliki peran yang lebih didengar.

Pada hubungan keluarga yang sehat. opini dan pilihan remaja mulai lebih dianggap dan dijadikan pertimbangan.

Hubungan keluarga paling banyak berubah pada masa pubertas, dengan meningkatnya konflik antara remaja dan orang tua mereka – terutama antara remaja dan ibu mereka – dan kedekatan antara remaja dan orang tua mereka sedikit berkurang.

Perubahan cara remaja memandang peraturan dan kebijakan orang tua, khususnya, dapat berkontribusi pada meningkatnya konflik antara mereka dengan orang tua.

Meskipun pubertas tampaknya menjauhkan remaja dari orang tua mereka, ini sebenarnya merupakan fase normal. Konflik keluarga pada fase perkembangan ini cenderung mengenai masalah sehari-hari, bukannya pertikaian dan konfrontasi fisik.

Berkurangnya kedekatan adalah jalan bagi remaja buat meningkatkan privasi. Afeksi fisik kayak mencium dan memeluk di tempat umum mulai berkurang, namun itu nggak menghilangkan kasih sayang atau rasa hormat antara orang tua dan anak-anak.

Penelitian menunjukkan bahwa ini hanya sementara, dan konflik keluarga mungkin akan semakin berkurang dan menjadi lebih intim dari sebelumnya di era masa remaja akhir.

Secara umum, sebagian besar anak muda akan berhasil melalui proses perkembangan biologis, kognitif, emosional, dan sosial.

Meskipun orang sering mengira kalo anak muda lekat dengan masalah, tapi penelitian menunjukkan kalo kebanyakan orang di fase remaja akan melewati masa ini tanpa kesulitan.

 

 

Referensi jurnal pengertian remaja:

Adolescent health. (2022, January 31). Adolescent Health; www.who.int. https://www.who.int/southeastasia/health-topics/adolescent-health#:~:text=WHO%20defines%20’Adolescents’%20as%20individuals,East%20Asia%20Region%20(SEAR).

Baillargeon, R., & DeVos, J. (1991). Object permanence in young infants: Further evidence. Child development, 1227-1246.

Bruner, J. S. (1966). Toward a theory of instruction. Cambridge, Mass.: Belkapp Press.

Dasen, P. (1994). Culture and cognitive development from a Piagetian perspective. In W .J. Lonner & R.S. Malpass (Eds.), Psychology and culture (pp. 145–149). Boston, MA: Allyn and Bacon.

Hughes , M. (1975). Egocentrism in preschool children. Unpublished doctoral dissertation. Edinburgh University.

Inhelder, B., & Piaget, J. (1958). The growth of logical thinking from childhood to adolescence. New York: Basic Books.

Keating, D. (1979). Adolescent thinking. In J. Adelson (Ed.), Handbook of adolescent psychology (pp. 211-246). New York: Wiley.

Piaget, J. (1932). The moral judgment of the child. London: Routledge & Kegan Paul.

Piaget, J. (1936). Origins of intelligence in the child. London: Routledge & Kegan Paul.

Piaget, J. (1945). Play, dreams and imitation in childhood. London: Heinemann.

Piaget, J. (1957). Construction of reality in the child. London: Routledge & Kegan Paul.

Piaget, J., & Cook, M. T. (1952). The origins of intelligence in children. New York, NY: International University Press.

Plowden, B. H. P. (1967). Children and their primary schools: A report (Research and Surveys). London, England: HM Stationery Office.

Siegler, R. S., DeLoache, J. S., & Eisenberg, N. (2003). How children develop. New York: Worth.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Wadsworth, B. J. (2004). Piaget’s theory of cognitive and affective development: Foundations of constructivism. New York: Longman.

Ernst, M., Daniele, T., & Frantz, K. (2011). New perspectives on adolescent motivated behavior: Attention and conditioning. Developmental Cognitive Neuroscience, 1(4), 377–389. https://doi.org/10.1016/j.dcn.2011.07.013.

McLeod, S. A. (2018, June 06). Jean piaget’s theory of cognitive development. Simply Psychology. www.simplypsychology.org/piaget.html