Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli

Home // Istilah Psikologi // Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli

Sebenarnya apa sih pengertian motivasi itu? Apakah motivasi harus selalu datang dari motivator? Bisakah kita memotivasi diri sendiri?

 

1. Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli

Pada fase awal pemikiran mengenai teori motivasi, para ahli berupaya menelusuri sumber pendorong tindakan dengan cara melacak balik dan mencari seperti apa dorongan internal yang ada. Hirarki kebutuhan Maslow, teori ERG Alderfer, teori motivator-higiene Herzberg, dan kebutuhan belajar atau teori tiga kebutuhan McClelland adalah teori utama yang menjelaskan motivasi.

Kali ini, skuylah kita bahas pengertian motivasi menurut para ahli.

 

1.1 Motivasi Manusia Berdasarkan Teori Kebutuhan Maslow

Teori tentang motivasi dalam diri manusia bisa dilacak pertama kali melalui pemikiran Abraham Maslow. Dalam teori hirarki kebutuhannya, dia menyebut tentang hierarki kebutuhan yang mendasari motivasi. Maslow sendiri mendasarkan konsep hirarki kebutuhan atas dasar 2 prinsip. Prinsip itu adalah:

  1. Kebutuhan-kebutuhan manusia bisa disusun menjadi suatu tingkatan atau hirarki. Tingkatan ini dari yang paling sederhana hingga paling kompleks.
  2. Apabila satu kebutuhan sudah terpenuhi, maka manusia akan bergerak menuju kebutuhan berikutnya. Manusia akan terdorong memenuhi kebutuhan yang saat itu paling dirasakan.

Saya pernah membahas tentang hirarki Maslow di sini. Tetapi secara singkat, kebutuhan itu ada lima:

  1. kebutuhan fisik (makan, tidur, buang air)
  2. kebutuhan akan aman (rasa aman)
  3. kebutuhan akan kasih sayang
  4. kebutuhan akan harga diri atau penghargaan dari orang lain
  5. kebutuhan akan aktualisasi diri.

 

1.2 Teori ERG Alderfer.

Hirarki kebutuhan Maslow kemudian diperjelas oleh teori ERG. Alderfer dalam teori ERG mengusulkan untuk mengkategorikan kebutuhan menjadi tiga kategori saja. Tiga kebutuhan ini adalah keberadaan, keterkaitan, dan pertumbuhan.

Kategori kebutuhan fisiologis dan keamanan adalah kebutuhan yang berkait dengan aspek Keberadaan. Sementara, aspek belonging dan harga diri dimasukkan ke dalam aspek keterkaitan. Kebutuhan pertumbuhan adalah kebutuhan yang terkait dengan pencapaian potensi penuh seseorang dan terkait dengan kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri Maslow.

Teori ERG berbeda dari hierarki kebutuhan karena tidak mengharuskan kebutuhan tingkat yang lebih rendah dipenuhi sepenuhnya sebelum kebutuhan tingkat yang lebih tinggi menjadi motivasi.

Menurut teori ERG, jika seorang individu terus-menerus tidak dapat memenuhi kebutuhan tingkat atas, individu tersebut akan mundur dan kebutuhan tingkat bawah akan menjadi penentu utama motivasi mereka.

Implikasi teori ERG bagi manajer serupa dengan hierarki kebutuhan: manajer harus fokus pada pemenuhan kebutuhan karyawan akan keberadaan, keterkaitan, dan pertumbuhan, tetapi tanpa harus menerapkan ketentuan bahwa masalah keselamatan kerja lebih diutamakan daripada pekerjaan yang menantang dan memenuhi persyaratan.

 

1.3 Teori Motivasi Hezberg

Teori Motivator-Hygiene Teori motivator-hygiene dikembangkan oleh Frederick Herzberg. Teori ini mirip dengan hierarki kebutuhan Maslow, tetapi teori ini berfokus pada bagaimana orang termotivasi di tempat kerja. Menurut penelitiannya, memenuhi kebutuhan individu pada tingkat yang rendah seperti kebersihan tidak akan memotivasi mereka untuk mengerahkan upaya, tetapi hanya akan mencegah mereka dari ketidakpuasan. Individu akan termotivasi hanya jika kebutuhan tingkat yang lebih tinggi (motivator) terpenuhi.

Teori Motivator-Hygiene Teori motivator-hygiene dikembangkan oleh Frederick Herzberg. Teori ini mirip dengan hierarki kebutuhan Maslow, tetapi teori ini berfokus pada bagaimana orang termotivasi di tempat kerja.

Menurut Herzberg, memenuhi kebutuhan tingkat rendah individu (faktor kebersihan) tidak akan memotivasi mereka untuk bekerja keras, tetapi hanya mencegah karyawan dari rasa tidak puas.

Individu akan termotivasi hanya jika kebutuhan tingkat yang lebih tinggi (motivator) terpenuhi.

Teori motivator-higiene menyiratkan bagi para manajer bahwa memenuhi kebutuhan tingkat bawah karyawan dengan meningkatkan gaji, tunjangan, keamanan, dan faktor kontekstual pekerjaan lainnya akan mencegah mereka menjadi tidak puas secara aktif tetapi tidak akan memotivasi mereka untuk mengerahkan upaya ekstra menuju kinerja yang lebih baik.

Manajer harus fokus pada perubahan sifat intrinsik dan isi pekerjaan itu sendiri untuk meningkatkan otonomi dan peluang karyawan untuk mengambil tanggung jawab tambahan, mendapatkan pengakuan, dan mengembangkan keterampilan dan karier mereka, menurut teori tersebut.

 

1.4 Teori Kebutuhan McClelland

Menurut teori McClelland, individu mempelajari kebutuhan dari budaya individu tersebut berada.

Meski begitu, secara umum semua kebutuhan akan mengarah ke tiga kebutuhan utama: kebutuhan akan afiliasi (n Aff), kebutuhan akan kekuasaan (n Pow), dan kebutuhan untuk berprestasi (n Ach).

Keinginan untuk membentuk hubungan sosial dengan orang lain tercermin dalam kebutuhan berafiliasi.

Kebutuhan akan kekuasaan berarti keinginan untuk menggunakan kendali atas lingkungan seseorang dan mempengaruhi orang lain.

Sementara, keinginan untuk mengambil tanggung jawab, menetapkan tujuan yang menantang, dan menerima umpan balik kinerja adalah yang mendorong kebutuhan untuk berprestasi.

Berdasarkan teori Ekspektasi – Nilai (Value/expectancy theori), yang dikenalkan oleh Feather, 1982 (Parsons dkk, 2001) motivasi terbentuk karena adanya dua komponen, yaitu :

  1. Expectancy (harapan akan hasil). Teori ini menekankan pada kepercayaan tindakan yang menuntun pada tujuan dari hasil yang dicapai (expectancy).
  2. Value (nilai). Artinya adalah bahwa tujuan dari hasil yang dicapai tersebut harus mempunyai nilai (value)

Menurut Parsons, dkk (2001), Value berhubungan dengan adanya kebutuhan seperti hierarki kebutuhan Maslow. Sementara Expectancy erat kaitannya dengan self efikasi (Efikasi diri), self worth (kepantasan diri), dan attribution (atribusi), seperti yang dikemukakan oleh Bandura.

Jika tujuan tidak memiliki makna maka tidak akan ada motivasi. Begitu pula sebaliknya, ketika suatu tugas memiliki makna yang tinggi, tapi tidak ada kepercayaan dari individu bahwa dia bisa menyelesaikan tugas tersebut, maka motivasinya pun akan berkurang.

 

1.5 Pengertian Motivasi Menurut Slavin

Menurut Slavin, seseorang yang termotivasi akan mampu menyelesaikan tujuan yang ingin dicapainya meskipun banyak rintangan yang menghadang.

Bahkan, menurut teori pembelajaran perilaku, konsep motivasi terkait erat dengan prinsip bahwa perilaku yang pernah dikuatkan (mendapat reward) lebih mungkin diulangi daripada perilaku yang belum dikuatkan atau yang telah dihukum (Slavin, 2011).

Motivasi sendiri kemudian didefinisikan sebagai proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu (Pintrich, 2003 dalam Slavin, 2011).

Motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang melangkah, membuatnya tetap melangkah, dan menentukan ke mana seseorang tersebut mencoba melangkah (Slavin, 2011).

 

1.6 Pengertian Motivasi Menurut Purwanto (2004)

Purwanto (2004) mendefinisikan motivasi sebagai suatu usaha sadar untuk menggerakkan, mengarahkan, dan menjaga tingkah laku seseorang. Ini bertujuan agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.

 

1.7 Definisi Motivasi Menurut Schunk, Pintrich & Meece (2012)

Schunk, Pintrich & Meece (2012) mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses dimulai dan dipertahankannya aktivitas yang diarahkan pada pencapaian tujuan.

Dalam hal ini Schunk, dkk menjelaskan bahwa motivasi menyangkut berbagai tujuan yang memberikan daya penggerak dan arah bagi tindakan.

Motivasi juga menuntut dilakukannya aktivitas fisik maupun mental, yang kemudian aktivitas yang termotivasi tersebut diinisiasikan dan dipertahankan.

 

1.8 Definisi Motivasi menurut Ormrod (2008, dalam Santrock, 2009)

Ormrod (2008; Santrock, 2009) mendeskripsikan motivasi sebagai sesuatu yang menghidupkan (energize), mengarahkan dan mempertahankan perilaku; motivasi membuat siswa bergerak, menempatkan mereka dalam suatu arah tertentu, dan menjaga mereka agar terus bergerak.

 

1.9 Definisi Motivasi menurut Parsons, Hinson, & Brown, (2001)

Menurut Parsons, Hinson, dan Brown (2001), motivasi adalah bagian internal dari seorang individu yang menghidupkan, mengarahkan, serta memelihara perilaku.

Lebih lanjut, Ormrod (2008) menjelaskan pengaruh motivasi terhadap pembelajaran dan perilaku siswa, sebagai berikut : a) motivasi mengarahkan perilaku ke tujuan tertentu, b) motivasi meningkatkan usaha dan energi, c) motivasi meningkatkan prakarsa (inisiasi) dan kegigihan terhadap berbagai aktivitas, d) motivasi mempengaruhi proses-proses kognitif, e) motivasi menentukan konsekuensi mana yang diberi penguatan dan menghukum, serta f) motivasi sering meningkatkan performa.

 

1.10 Pengertian Motivasi menurut Santrock

Menurut Santrock (2009), teori motivasi dikaitkan dalam beberapa perspektif. Perspektif tersebut berupa:

1. Perspektif Behavioristik

Dari perspektif ilmu behavioristik, penghargaan dan hukuman eksternal adalah kunci dalam menentukan motivasi seorang siswa.

Berdasarkan perspektif ini, penekanannya adalah pada bahwa reward dapat menambahkan minat atau rangsangan kepada kelas serta mengarahkan perhatian pada perilaku yang diinginkan dan menjauhi perilaku yang tidak diinginkan.

Contoh reward yang bisa diberikan antara lain; memberi siswa pujian secara verbal, serta mengizinkan siswa melakukan sesuatu yang menyenangkan apabila berhasil menyelesaikan tugas.

2. Perspektif Humanistik

Perspektif humanistik dalam motivasi menekankan pada kapasitas siswa untuk pertumbuhan pribadi, kebebasan untuk memilih nasib mereka sendiri. Artinya, perspektif humanistik meyakini bahwa manusia memiliki kapasitas masing-masing untuk bertumbuh, dan setiap orang bebas menentukan ke mana akan melangkah.

 

3. Perspektif Kognitif

Menurut perspektif kognitif, pikiran siswa akan mengarahkan ke mana mereka akan termotivasi.

Minat ini berfokus pada gagasan-gagasan seperti motivasi internal siswa untuk berprestasi, atribusi mereka (persepsi mengenai penyebab keberhasilan atau kegagalan, khususnya persepsi bahwa usaha merupakan faktor penting dalam prestasi).

Perspektif ini juga menekankan pentingnya penetapan tujuan, perencanaan, dan pemantauan kemajuan menuju suatu sasaran. ( Schunk & Zimmerman, dalam Santrock, 2009)

 

4. Perspektif Sosial

Dari segi perspektif sosial, seseorang yang memiliki motivasi ingin terhubung secara aman dengan orang lain. Hal ini termasuk membangun, mempertahankan, serta memulihkan hubungan pribadi yang hangat dan akrab.

Siswa yang berada di sekolah dengan hubungan interpersonal yang penuh perhatian dan dukungan, mempunyai sikap dan nilai akademis yang lebih positif dan merasa lebih puas terhadap sekolah.

 

2. Apa Kesimpulan dari Berbagai Pengertian Teori Motivasi tadi?

Jadi, apa kesimpulan dari berbagai pengertian teori motivasi tadi?

Dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah penggerak yang menjadi alasan seseorang untuk secara sadar melakukan suatu tindakan dan mempertahankan tindakan tersebut. Motivasi dapat dibentuk dari dalam diri maupun secara eksternal, memiliki berbagai tujuan, serta dapat berbeda pada tiap orang. Memiliki motivasi berarti memiliki penggerak yang membuat seseorang meningkatkan usahanya, mempertahankan usaha tersebut, mengevaluasi usaha tersebut apabila mengalami kegagalan, dan membuat seseorang bisa bertahan melewati rintangan hingga tujuannya tercapai.

 

3. Referensi Mengenai Pengertian Motivasi

Slavin, R., 1987. Cooperative Learning: Where Behavioral and Humanistic Approaches to Classroom Motivation Meet. The Elementary School Journal, 88(1), pp.29-37.

Slavin, R. E. (2011). Instruction based on cooperative learning. Handbook of research on learning and instruction, 358-374.

W. Santrock, J. (2009). ChilLeedy, P. D., & Ormrod, J. E. (2005). Practical research (Vol. 108). Saddle River, NJ, USA: Pearson Custom.d Development. McGraw-Hill.

Parsons, R. D., Hinson, S. L., & Sardo-Brown, D. (2001). Educational psychology: A practitioner-researcher model of teaching. Wadsworth/Thomson Learning.

Schunk, D. H. (2012). Learning theories an educational perspective sixth edition. pearson.

Leave a Comment