Pengertian Afiliasi Menurut Para Ahli

Home // Kamus Psikologi // Pengertian Afiliasi Menurut Para Ahli

Afiliasi adalah kebutuhan untuk membentuk hubungan dengan orang lain untuk dukungan, bimbingan, dan perlindungan. Kali ini, kita akan membahas berbagai pengertian afiliasi menurut para ahli.

 

Pengertian Afiliasi Menurut Para Ahli

Seperti apa pengertian afiliasi menurut para ahli?

Pada 1954, Maslow menunjukkan pentingnya berhubungan dengan orang lain, yang didefinisikan sebagai belonging dalam hierarki kebutuhannya (Maslow, 1954). Meski dipopulerkan oleh Maslow, namun kebutuhan afiliasi lebih dulu diusulkan oleh Murray (1938). Di dalam taksonomi kebutuhannya, Murray menyebut afiliasi sebagai salah satu kebutuhan selain pencapaian dan kekuasaan.

Istilah yang berbeda namun punya makna yang sama juga diusulkan oleh Deci & Ryan (1980) dan Alderfer (1972). Istilah ini disebut keterkaitan, juga digunakan dalam berbagai teori tentang motivasi.

Istilah Afiliasi dipopulerkan oleh McClelland (1961), yang ia definisikan sebagai kebutuhan individu untuk berhubungan dengan orang lain. Ide ini didasarkan pada hubungan kepercayaan yang positif (McClelland, 1961; Zimbardo & Formica, 1963). Lebih lanjut, McClelland menggambarkan Afiliasi sebagai kebutuhan untuk merasakan keterlibatan dan menjadi bagian dari suatu kelompok sosial.

McClelland (1987) mendefinisikan afiliasi sebagai aktivitas di mana kelompok atau tim yang saling mengandalkan untuk mendapatkan suatu hasil.

Yamaguchi (2003) menggambarkan afiliasi sebagai kebutuhan akan saling ketergantungan dan kerjasama dengan orang lain.

Hubungan yang kuat dengan orang lain akan memberi persepsi bahwa seorang individu adalah bagian dari sesuatu yang penting (McClelland, 1961; Murray, 1938).

Dalam hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan berafiliasi muncul antara kebutuhan fisik dan kebutuhan aktualisasi diri. Dalam hierarki Maslow, kebutuhan berafiliasi ini disebut belonging.

 

Lihat juga pengertian dari berbagai istilah psikologi lainnya di sini!

 

Seperti apa ciri-ciri orang dengan kebutuhan afiliasi tinggi?

Kebutuhan untuk berafiliasi adalah kebutuhan untuk membangun, memelihara, dan/atau memulihkan hubungan afektif yang positif. Maka, orang dengan kebutuhan afiliasi tinggi akan memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan tadi.

Orang dengan kebutuhan afiliasi tinggi akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bergaul dengan orang lain, mengekspresikan lebih banyak keinginan untuk bersama orang lain, lebih siap mempelajari jaringan sosial, cenderung lebih toleran sama orang lain, dan menghindari konflik interpersonal.

Individu dalam kebutuhan ini lebih memilih bekerja dengan orang yang sudah akrab, memiliki umpan balik yang berorientasi pada hubungan, dan lebih kooperatif dalam bekerja. Dibandingkan dengan orang yang bermotif rendah, mereka yang membutuhkan afiliasi tinggi cenderung lebih banyak berinteraksi dengan orang lain yang mereka sukai, menyukai orang yang lebih banyak berinteraksi dengan mereka, dan berinteraksi dengan dan menyukai orang-orang yang lebih mirip dengan mereka dalam hal nilai, sikap, dan kepercayaan.

Mereka lebih mungkin untuk bekerja sama dengan dan mengadopsi pandangan individu yang mereka sukai dan cenderung tidak menyukai orang yang berbeda pandangan.

Dua aspek kutub kebutuhan afiliasi adalah keinginan untuk membaur dan ketakutan akan pengucilan.

Orang dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi sebenernya tidak lebih baik dalam mengembangkan hubungan dibanding orang yang kebutuhan afiliasinya rendah. Hal ini mungkin karena orang dengan kebutuhan afiliasi tinggi cenderung lebih ngotot dalam memperjuangkan suatu hubungan, yang bisa jadi diakibatkan ketidakmampuan untuk membangun hubungan yang bermakna.

Kebutuhan untuk afiliasi kurang cocok untuk memprediksi suatu hubungan yang berkualitas; ia lebih tepat untuk memprediksi kecemasan akan penolakan dan pengucilan.

 

Apa yang terjadi bila kebutuhan untuk afiliasi untuk tidak terpenuhi?

Lalu, apa jadinya bila kebutuhan berteman ini tidak terpenuhi?

Manusia didorong oleh kebutuhan untuk membentuk dan memelihara hubungan dekat (Baumeister & Leary, 1995; McClelland, 1985; Stevens & Fiske, 1995). Dengan demikian orang jadi lebih terdorong untuk memulai perilaku yang mengarah pada interaksi sosial yang positif dan meminimalisir interaksi sosial yang negatif.

Ketika kebutuhan ini ini terpenuhi, kita mengalami emosi positif dan perasaan puas. Ketika tidak, kita mengalami emosi negatif dan lesu (Baumeister & Leary, 1995; Baumeister, Twenge, & Nuss, 2002; Blackhart, Eckel, & Tice, 2007).

Ketika tujuan afiliasi dibiarkan tidak terpenuhi, berbagai konsekuensi kesehatan fisik dan emosional yang negatif dapat mengikuti (Hawkley & Cacioppo, 2010; Newsom, Mahan, Rook & Krause, 2008).

Misalnya, kegagalan untuk memenuhi tujuan afiliasi dapat menyebabkan kesepian kronis (Newsom et al., 2008), perasaan rindu yang kuat (Watt & Badger, 2009), dan keinginan untuk bunuh diri (Van Orden et al., 2008).

Tujuan afiliasi yang tidak terpenuhi juga punya dampak kesehatan, yaitu tingkat hormon stres yang lebih tinggi dan kesehatan kardiovaskular yang lebih buruk (Caspi, Harrington, Moffitt, Milne, & Poulton, 2006; Hawkley, Burleson, Berntson, & Cacioppo, 2003).

 

Pengertian afiliasi: Kesepian kronis

Newsom et al (2008) menyatakan bahwa model Trait-state-error menunjukkan bahwa tingkat yang lebih tinggi dari interaksi sosial negatif yang stabil secara signifikan memprediksi kesehatan diri yang lebih rendah, keterbatasan fungsional yang lebih besar, dan jumlah kondisi kesehatan yang lebih tinggi selama 2 tahun setelah mengendalikan tingkat awal variabel kesehatan dan sosiodemografi. Hasil ini menyoroti pentingnya memeriksa masalah interpersonal yang terus menerus dan berulang untuk memahami efek kesehatan hubungan sosial.

 

Pengertian afiliasi: Homesickness

(Watt dan Badger, 2009) menyelidiki apakah rasa kesepian dan rindu rumah muncul dalam kebutuhan untuk afiliasi. Studi 1 menguji hubungan antara kebutuhan untuk afiliasi dan homesickness sambil mengontrol variabel lain. Hasilnya, ada hubungan positif yang signifikan. Studi 2 kemudian menggunakan desain eksperimental untuk menguji efek kausal dari kebutuhan untuk menjadi bagian dari homesickness, dan efek yang signifikan ditemukan.

Temuan tambahan menunjukkan bahwa individu yang berhasil melakukan proses akulturasi dan diterima di masyarakat akan merasakan homesickness lebih sedikit. Penelitian ini tidak difaktorkan pada jumlah teman. Tapi, lebih kepada kualitas hubungan antara sikap kelompok sosial dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kelompok tersebut.

 

Pengertian afiliasi: Keinginan bunuh diri

Penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa dalam sampel mahasiswa di sebuah universitas besar di Amerika Serikat bagian selatan (n = 309), keinginan untuk bunuh diri bervariasi di seluruh semester akademik, dengan tingkat tertinggi di musim panas dibandingkan dengan musim semi dan musim gugur. Perbedaan ide bunuh diri antara musim panas dan musim semi sebagian besar disebabkan oleh kebutuhan afiliasi. Implikasi teoritis, serta praktis, dibahas mengenai mekanisme variasi musiman dalam ide bunuh diri.

 

 

Jurnal tentang pengertian afiliasi

Freudling, Maximilian (2020) : Awareness of intrinsic motivation in leadership, Journal of Applied Leadership and Management, ISSN 2194-9522, Hochschule Kempten – University of Applied Sciences, Professional School of Business & Technology, Kempten, Vol. 8, pp. 134-151, https://www.journal-alm.org/article/view/21409

Yamaguchi, I. (2003). The relationships among individual differences, needs, and equity sensitivity. Journal of Managerial Psychology, 18, 324-344.

McClelland, D. C. (1985). How motives, skills, and values determine what people do. American Psychologist, 40(7), 812-825.

McClelland, D. (1987). Human motivation. Cambridge, NY: Cambridge University Press.

Hawkley LC, Cacioppo JT. (2010). Loneliness matters: A theoretical and empirical review of consequences and mechanisms. Annals of Behavior Medicine. 40:218–227.

Newsom JT, Mahan TL, Rook K, Krause N. Stable negative social exchanges and health. Health Psychology. 2008;27:78–86.

Watt SE, Badger AJ. Effects of social belonging on homesickness: An application of the belongingness hypothesis. Personality and Social Psychology Bulletin. 2009

Caspi A, Harrington H, Moffitt TE, Milne BJ, Poulton R. Socially isolated children 20 years later: Risk of cardiovascular disease. Archives of Pediatric Adolescent Medicine. 2006;160:805–811.