Pengertian Abreaksi dan Terapi Abreaksi

Home // Istilah Psikologi // Pengertian Abreaksi dan Terapi Abreaksi

Apa itu abreaksi? Seperti apa terapi abreaksi? Dan apakah terapi abreaksi efektif? Kita bahas di sini.

 

Apa itu abreaksi?

Abreaksi adalah reaksi emosional dan nggak sadar terhadap sesuatu yang mengingatkan Kamu pada situasi yang menyakitkan. Abreaksi biasanya terjadi karena punya peristiwa buruk yang terus menghantui.

Misalnya, korban kekerasan fisik mungkin merasa ngeri saat melihat orang mengangkat tangan, padahal mungkin orang itu mau memukul nyamuk atau lainnya.

Sementara, terapi abreaksi merujuk pada metode menghilangkan sensitivitas atau reaksi otomatis ini. Dalam sesi terapi, Kamu mungkin akan dipancing mengalami abreaksi sehingga Kamu bisa belajar untuk mengganti reaksi naluriah yang nggak logis dengan reaksi yang lebih sesuai untuk situasi tersebut.

Terapi Abreaksi sendiri fokus pada menghidupkan kembali peristiwa traumatis dan menangani emosi yang menyertainya. Tapi, kenangan ini dimunculkan supaya bisa disembuhkan.

Metode abreaksi ini memungkinkan klien melepaskan kepedihan bawah sadar mereka dan menjauhkan dari ingatan dan perasaan yang menghalangi mereka untuk bergerak maju.

Psikolog abreaksi menggunakan katarsis, untuk menghilangkan pikiran yang terkait dengan pengalaman tersebut. Setelah penanganan, klien akan menjalani proses pelepasan emosional yang meringankan beban peristiwa traumatis.

 

Tujuan Terapi Abreaksi

Terapi Abreaksi bertujuan untuk membersihkan tubuh klien dengan menghidupkan kembali trauma mereka dan melepaskan pikiran dan emosi yang menyakitkan.

Setelah menyelesaikan penanganan, klien harus dapat berbicara secara terbuka tentang kejadian tersebut tanpa merasa canggung.

Termasuk di dalam proses terapi adalah menjelaskan apa yang terjadi dari perspektif yang berbeda. Ini bisa membantu menyembuhkan individu, sehingga seseorang bisa move on.

Terapi abreaksi ini membantu menjernihkan pikiran, yang bisa sangat membantu bila dikaitkan dengan emosi yang berat dan kenangan yang menyakitkan.

 

Kapan Terapi Abreaksi Digunakan?

Terapi Abreaksi digunakan ketika klien membutuhkan gangguan emosional dan spiritual.

Psikolog akan membimbing klien melalui kejadian itu lagi. Kemudian, psikolog akan menghidupkan kembali kejadian traumatis, sambil membimbing klien melepaskan ketakutan dan kesedihan yang telah ditahan sejak kejadian tersebut.

Terapi abreaksi digunakan untuk orang yang mengalami trauma dan kesulitan yang mempengaruhi kehidupan mereka saat ini dan hubungan dengan orang lain. Trauma dihilangkan supaya si klien bisa kembali melanjutkan hidup dan beraktivitas kembali kayak sebelumnya.

 

Bagaimana Cara Kerja Terapi Abreaksi?

Karena metode psikoterapi satu ini berupa menghidupkan kembali kejadian lama, maka penanganan abreaksi mungkin memakan waktu lebih lama dari rencana penanganan lainnya.

Saat ini, sbreaksi digunakan sebagai pendekatan kombinasi yang menguraikan peristiwa traumatis untuk mengintegrasikan masa lalu dan menangani rasa sakitnya secara konstruktif.

Karena trauma kompleks dan mempengaruhi klien dalam berbagai cara, psikolog perlu menggunakan teknik ini dengan hati-hati untuk menghidupkan kembali ingatan klien dari peristiwa dan rasa sakit.

Klien kemungkinan akan mengalami disorientasi pada awal penanganan. Ketika menghidupkan kembali suatu peristiwa, psikolog harus berhati-hati karena flashback nggak dapat dihindari dalam menangani trauma. Psikolog harus membangun hubungan saling percaya dengan klien. Selama Abreaksi, keamanan di antara keduanya akan menciptakan rasa aman sehingga reaksi apapun bisa keluar dengan mudah.

Menjelang awal penanganan, psikolog perlu menciptakan rasa tenang di dalam ruangan dan memberikan psikoedukasi kepada klien. Ini supaya klien memahami apa yang psikolog lakukan dan apa tujuannya. Klien perlu diyakinkan bahwa proses terapi bukanlah untuk membongkar aib atau luka lama, namun untuk memastikan reaksi dari klien sudah benar, sehingga bisa melanjutkan hidup.

Kenangan traumatis bisa dihidupkan kembali dengan cepat ketika ada pemicu yang diaktifkan. Meskipun mungkin terasa seperti tekanan dan akan ada konflik antara psikolog dan klien, lambat laun emosi dan kejadian yang belum diproses akan muncul ke permukaan.

Ketika pikiran dan perasaan klien berhasil dikeluarkan, dia akan memperoleh perspektif, kejelasan, dan identitas baru.

Ini adalah strategi yang efektif untuk mengatasi ingatan yang nggak bersahabat karena menempatkan individu dalam peran baru.

Psikolog dan klien pada akhirnya akan bekerja sama menyingkirkan ingatan yang mengganggu, menutupnya, dan melanjutkan hidup.

Selama proses ini, psikolog perlu menjadi pegangan fisik selama proses berlangsung. Artinya jika klien butuh berpegangan pada sesuatu, psikolog bertindak mengulurkan tangan.

Karena sesi terapi abreaksi ini panjang, maka perlu ada hubungan yang erat, dan mungkin diperlukan sesi yang panjang sebelum klien siap untuk menghidupkan kembali kenangan traumatis tersebut.

Untuk klien yang sudah mengalami trauma berat, mungkin diperlukan beberapa sesi yang panjang sebelum mereka merasa aman dan siap melakukan proses terapi.

 

Kritik Mengenai Terapi Abreaksi

Kritik yang dilontarkan pada Terapi Abreaksi berasal dari penggunaannya sebagai penanganan utama daripada metode kombinasi, yang telah menyebabkan penggunaannya saat ini sebagai pendekatan terapi integratif.

Abreaksi jarang digunakan sebagai satu alat terapi tunggal. Soalnya, tanpa kombinasi dengan metode lain, terapi abreaksi hanya memunculkan reaksi tanpa mengatasi emosi dan perilaku yang terkait dengan trauma masa lalu.

Abreaksi sendiri mulai ditinggalkan. Tapi masih ada juga psikolog yang menggunakannya dalam situasi tertentu. Biasanya ini jadi bagian dari rangkaian penanganan yang lebih besar. Ketika abreaksi terjadi, orang mungkin mencari bantuan dari psikolog untuk mengatasi emosi yang terkait dengan trauma masa lalu.

Setelah mengingat trauma masa lalu, ingatan dapat dieksplorasi dengan hati-hati dengan dukungan yang dibutuhkan orang tersebut untuk mengatasi trauma tersebut. Belajar untuk mengintegrasikan pengalaman-pengalaman ini dan mengandalkan keterampilan koping yang berharga dapat mengurangi disosiasi yang dapat dialami orang sebagai respons terhadap trauma.

eberapa penelitian menunjukkan kalo teknik yang dikenal sebagai terapi keadaan ego abreactive dapat secara efektif mengobati gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Metode ini memerlukan berulang kali menginduksi abreaksis hipnosis trauma, diikuti oleh penguatan ego.

Keyakinan awal Freud dalam mempromosikan abreaksi dalam terapi adalah kalo dengan melepaskan emosi yang menyakitkan, kepedihan pengalaman traumatis akan berkurang. Tapi, ini dibantah oleh para ahli modern, yang menyadari bahwa berulang kali mengenang kejadian dan emosi traumatis nggak mengurangi kesedihan.

Trauma sering menyebabkan orang memisahkan diri dari emosi, ingatan, dan identitas mereka. Tingkat disosiasi yang dialami seseorang dapat berkisar dari ringan, mirip dengan melamun, hingga parah, seperti dalam kasus orang yang menderita gangguan identitas disosiatif (DID).

Beberapa aliran psikologi percaya kalo disosiasi harus diatasi dengan cara memasukkannya ke dalam kesadaran dan identitas seseorang. Para ahli kesehatan mental meyakini kalo berurusan dengan stres traumatis, seperti PTSD, nggak bisa hanya mengandalkan mengobati kenangan traumatis dengan abreaksi.

Faktanya, penelitian telah menunjukkan kalo salah satu terapi terbaik untuk PTSD adalah terapi perilaku kognitif (CBT), yang justru nggak ada hubungannya dengan abreaksi.

Nah, segitu dulu yes penjelasan tentang pengertian abreaksi dan terapi abreaksi. Meski mulai ditinggalkan sebagai metode penanganan tunggal, kombinasi abreaksi dengan strategi koping yang tepat masih bisa kok menghasilkan perubahan positif.

Kalo kamu berencana menangani trauma, kamu bisa berkonsultasi dengan psikolog mengenai penanganan yang bisa dia lakukan. Kalo dia berencana mengeluarkan kembali kejadian traumatis itu, kamu perlu juga mendiskusikan tentang kombinasi terapi yang akan dia lakukan.

 

Referensi jurnal abreaksi:

  1. Imai H, Tajika A, Chen P, Pompoli A, Furukawa TA. Psychological therapies versus pharmacological interventions for panic disorder with or without agoraphobia in adultsCochrane Database Syst Rev. 2016;10:CD011170. doi:10.1002/14651858.CD011170.pub2
  2. Marx C, Benecke C, Gumz A. Talking cure models: A framework of analysisFront Psychol. 2017;8:1589. doi:10.3389/fpsyg.2017.01589
  3. Christensen C, Barabasz A, Barabasz M. Efficacy of abreactive ego state therapy for PTSD: Trauma resolution, depression, and anxietyInt J Clin Exp Hypn. 2013;61(1): 20-37. doi:10.1080/00207144.2013.729386
  4. Watkins LE, Sprang KR, Rothbaum BO. Treating PTSD: A review of evidence-based psychotherapy interventionsFront Behav Neurosci. 2018;12:258. doi:10.3389/fnbeh.2018.00258
  5. Qi W, Gevonden M, Shalev A. Prevention of post-traumatic stress disorder after trauma: Current evidence and future directionsCurr Psychiatry Rep. 2016;18(2):20. doi:10.1007/s11920-015-0655-0
  6. Ma X, Yue ZQ, Gong ZQ, et al. The effect of diaphragmatic breathing on attention, negative affect and stress in healthy adultsFront Psychol. 2017;8:874. doi:10.3389/fpsyg.2017.00874

 

Leave a Comment