Pengalaman Kuliah Psikologi: Ini 13 Hal yang Kamu Rasakan!

Home // Kepoin Psikologi // Kuliah Psikologi // Pengalaman Kuliah Psikologi: Ini 13 Hal yang Kamu Rasakan!

Seperti apa pengalaman kuliah psikologi? Apa aja yang akan kamu rasakan kalo kuliah psikologi? Kuylaaa bahas di sini!

 
Seperti kembang api, psikologi bisa menyimpan berbagai kejutan.
Kejutannya bisa jadi mengagumkan, bisa juga berupa kecipratan api.

Susahnya banyak, tapi enaknya nggak kalah banyak.

Meski demikian, kuliah psikologi barangkali keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Ada banyak pengalaman yang saya dapet, dan pengalaman itu layak dikenang.

Memang sih pengalaman tiap mahasiswa beda-beda, tapi rasanya 13 hal ini pasti pernah dialami mahasiswa psikologi. Kalau kamu berniat belajar psikologi, siap-siap juga merasakan 13 hal ini.

 

Apa saja pengalaman kuliah psikologi yang akan kamu rasakan?

 

1. Pengalaman Kuliah Psikologi: Kamu akan ditanya bisa ngeramal apa nggak

Kalau kamu reuni dengan teman-teman lama, atau kenalan sama orang non-psikologi, pasti ditanyain ini.

“Bisa ngeramal nggak?”
“Coba baca telapak tanganku”
“Bisa baca pikiranku nggak?”

Tentu, di awal-awal kamu akan dengan sabar menjelaskan bahwa psikologi beda sama paranormal.
Psikologi nggak bisa membaca orang lain, kecuali sudah melihat tanda-tanda perilakunya dengan jelas.
Tapi lama-lama kamu bosen juga harus ngejelasin sama orang lain. Kalo kamu bosen, jawab aja,”kamu cocoknya kerja di air.”

 

2. Kalau kuliah psikologi, kamu akan disuruh lihat kepribadian orang

Kamu ketemu orang. Lalu kamu menyebut bahwa kamu mahasiswa psikologi.
Sebagian orang akan excited dengan perkataanmu tadi.
Mereka akan mengangkat alis, lalu bilang “oh ya?” atau “psikologi?” dengan nada nggak percaya.

Lalu mereka menantang kamu membaca kepribadian mereka.
Atau, mereka menyuruh kamu membaca kepribadian orang lain berdasarkan foto.

Lah emang sini Mama Lauren???

Anyway, kepribadian nggak bisa dibaca lewat satu tatapan mata yes. Tapi kamu tetep bisa mengetahui kepribadian kamu. Caranya? Coba deh baca-baca tentang psikologi kepribadian di sini.

 

3. Kalau kuliah psikologi, kamu jadi tempat curhat dadakan

Ini nih yang paling sering!

Kalau kamu kuliah psikologi, orang akan menjadikan kamu sebagai tempat curhat dadakan.
Ini biasanya terjadi saat reuni sama temen-temen SMA, atau habis kenalan sama orang baru.

Mereka akan ngajak ngobrol kamu sedikit, lalu memancing kamu dengan pertanyaan seputar perilaku atau gangguan kejiwaan.

Contoh: “cewek kalo suka makan odol itu berarti apa ya?”
Atau “pacarku nggak suka telponan atau chat, jadi kita ngobrol pake sandi semapur. itu tandanya apa ya?”

Akhirnya, sambil menghela nafas, kamu menjawab sebisamu.

Kalaupun sudah menjawab, pekerjaan belum selesai sampai di situ.
Pertanyaan ini akan merembet sedikit demi sedikit ke masalah pribadinya dia.
Pada akhirnya, ketika kamu sudah terjebak terlalu dalam…

Kamu menjadi penasihat pribadi temenmu 24/7.
Gratis, tanpa dibayar.

Maka, jika kamu ditanya “ngambil jurusan apa?”
Jawab saja dengan sesuatu selain psikologi.
Mungkin sastra mesin, atau bidan elektro.

 

4. Pengalaman kuliah psikologi: Ditanya “bisa hipnotis gak?”

 

Ini pengalaman kuliah psikologi saya nih.

Satu hari saat ospek, saya (mahasiswa tua) sedang duduk di dekat fakultas.
Tidak lama kemudian, seorang peserta ospek datang bermandi keringat. Wajahnya pucat pasi.

Dia: mas mahasiswa psikologi ya?
Saya: iya.
Dia: saya mau minta tolong.. boleh nggak?
saya: minta tolong apa ya?
Dia: Ini… tas saya tadi hilang. Saya sudah bilang ke panitia, terus saya udah punya tersangkanya.
Saya: terus?
Dia: Kira-kira ada dosen nggak ya di dalem?
Saya: buat apa?
Dia: Saya sama panitia mau minta tolong hipnotis tersangka biar bisa diinterogasi…

HEM. KORBAN ACARA UYU KUYU.

Sumpah ini bener-bener terjadi. Ya hal tersebut secara signifikan membuat saya kehabisan kata-kata.
Akhirnya dengan sabar, saya menjelaskan tentang hipnosis, dan kenapa hipnosis bukan kayak di acara uyu kuyu.

Kalau dipikir-pikir, masyarakat kita suka tapi takut sama hipnosis. Suka ngeliat orang dihipnosis, tapi takut kalo dianya yang dihipnosis.

Maka, ketika seseorang mengakui kuliah psikologi, mereka akan ditanya bisa hipnosis apa nggak.

Bukan saya aja yang mengalami. Teman-teman lain juga pernah ditanyakan hal serupa.
Sebagian lain ditanya: “diajarin hipnotis nggak?” atau “ajarin hipnotis dong…”
Kadang cuma becanda, kadang emang serius minta ajarin.

Kalau saya bisa hipnosis mah, saya bakal bilang ke mereka: “pergilah…. pergilah….”

 

5. Ditanya “psikologi kerjaannya apa sih?”

Ini pasti dialami mahasiswa psikologi yang berasal dari kota kecil.

Ketika mahasiswa psikologi pulang kampung, mereka pasti bertemu tetangga.
Tetangga lalu bertanya,”kamu kuliah apa?” dan kamu menjawab “psikologi”

Maka mereka akan bilang “ohhhh…..”
Hening sebentar.

Lalu disusul dengan “nanti kerjanya apa?”
Kalau beruntung, akan ditanya “berarti nanti kerja di rumah sakit?”
Atau, akan ditanya “ngurusin orang gila dong?”

Maka, mahasiswa psikologi, sambil tersenyum…
Akan menjelaskan dengan sabar apa yang bisa dikerjakan orang psikologi.

Yaah sebenernya karir psikologi gak cuma di rumah sakit. Bisa juga jadi staf HRD, GA, trainer, banyak sih.
Tapi kadang males juga sih mau mengulang-ulang jawaban yang sama. Makanya k
alau lagi bete, mereka cuma menjawab “ehehe ya gitula kira-kira~”.

 

6. Melihat teman berguguran satu per satu

Temen seangkatanmu sekarang udah nggak sebanyak dulu kan?
Sebenernya di jurusan lain kasus gini pasti ada.
Tapi psikologi termasuk yang paling parah.

Buat sebagian orang psikologi dianggap jurusan yang santai.
Yaaa… kuliah apaan? Cuma ngomongin perasaan doang kan?

Karena dianggap mudah, sebagian orang masuk psikologi cuma buat ngisi waktu sambil ikut tes atau seleksi.
Sebagian lain masuk psikologi tanpa tujuan serius, menganggap untuk senang-senang aja.
Sebagian masuk psikologi cuma demi gelar, yaa buat naik jabatan di tempat kerja.

Akhirnya seiring berjalannya waktu, satu per satu berguguran.
Geng yang ke mana-mana bareng, lama-lama jadi trio.
Abis itu jadi duo. Lama-lama, semakin tambah semester, jalan sendiri-sendiri.

Ada yang karena nikah duluan, ada yang kaget karena kuliahnya susah, ada yang lulus seleksi di tempat lain.
Ada yang silau sama indahnya kota besar. Main mulu, jarang kuliah, terus drop out.
Ada juga yang jalan terus tapi nyerah di skripsi.

Biasanya anak semester akhir adalah makhluk langka, jadi ia gampang dikenali dosen.
Dulu waktu masuk semester akhir, kalo absen, dosen saya cuma ngelirik terus bilang:
“Ya saya tau siapa kamu, nggak usah angkat tangan~”

Kadang sedih ngeliat psikologi diperlakukan kayak terminal.
Cuma buat mampir sebentar, bukan tempat untuk menetap.

Kayak orang yang baru putus, terus ngedeketin orang lain sebagai pelarian.
Kalau balikan, yaaa pelampiasannya ditinggal.

Kayak psikologi nggak diperlakukan sebagaimana mestinya.

Ini di tempat saya sih, nggak tau kalau di kampus lain.

 

7. Kaget karena ternyata ada matematik

Alasan pertama saya memilih psikologi adalah PASTI NGGAK ADA MATEMATIKA!
Karena, psikologi ngomongin perasaan. Ngapain belajar matematik, emang galau diitung pake rumus?

Karena pemikiran cacat tersebut, saya meyakini bahwa matematika nggak punya tempat di psikologi.
Yang lain pun mikir kayak gitu juga.

And boy, I was dead wrong.

Di semester pertama kami langsung kenalan sama statistik.
Saya hanya bisa termangu dan terherman-herman.

Kamu pernah nggak sih nungguin kiriman paket, terus ada yang ngetok pager, ehh nggak taunya tukang air mau ngasi tagihan? Ya gitu rasanya saya pas ketemu matematik. Ada kaget campur kecewa dikit.

Sungguh mengagetkan, karena di jurusan yang ngomongin jiwa dan perasaan…
Matematika kayak nemuuu aja jalan untuk nyelip dan nyusahin orang.

Belum lagi di semester tiga, ketemu psikometri.
Apalagi praktikumnya yang perlu bikin-bikin grafik dan rumus kayak janker, hanker, dan panker.
Belum bikin konstruksi alat ukur.

Akhirnya saya sadari, hampir tiap semester di psikologi ada hitung-hitungan.

KENAPA OGUT NGGAK BISA LOLOS DARI MATEMATIK???

 

8. Pontang-panting nyari subyek praktikum psikologi

Testee = Orang buat jadi bahan praktikum.

Kamu yang praktikum pasti pernah mengalami drama ini.
Sudah janjian sama testee, sudah bilang kapan waktu dan tempatnya.

Lalu… beberapa jam sebelum praktikum…
Dia ngechat bilang batal.

Wah, dunia serasa runtuh kalo udah kayak gitu.

Bukan apa-apa ya, nyari testee bukan hal yang gampang.
Apalagi kalau praktikumnya harus bawa anak atau remaja.

Ada juga praktikum harus nyari testee yang lagi ada masalah.
Akhirnya, biar nggak repot, sebagian mahasiswa cari masalah sama orang, lalu orang itu dijadikan testee.

Dulu, saya pernah harus praktikum di hari terakhir.
Nggak ada lagi praktikum setelah itu.
Kalau nggak ikut, ngulang tahun depan. Males banget kan?

Lalu, hari praktikum itu tiba.
Saya udah dandan ganteng, bersiap nunggu praktikum.
Testee saya anak-anak dan dia dateng sama mamanya.

Tunggu punya tunggu, ni bocah kok nggak dateng-dateng.
Akhirnya 15 menit kemudian datanglah sms.
Mamanya bilang: “mas, maaf ya anak saya rewel nggak mau ikut…”

Mau rebus diri rasanya waktu itu.

Untungnya, seorang temen membawa anak kecil dua, satu buat serep (lah kayak ban mobil katana).
Akhirnya anak itu saya ciduk dan saya paksa untuk menjadi testee.

Sekarang dengan isu pedofilia yang terus merebak, saya jadi kasian sama cowok-cowok yang nyari anak buat dijadiin testee. Apalagi kalau mukanya mesum.

Mereka bakal dapet testee nggak ya?

 

9. Dianggap tahu segalanya

Ketika kamu terjun ke masyarakat dengan merk “mahasiswa psikologi”, semua orang menganggap kamu menguasai apa yang kamu pelajari. Orang akan menanyakan banyak hal yang tak terduga.

Kadang-kadang, seseorang akan bertanya tentang gangguan jiwa yang kamu sendiri nggak pernah dengar. Bisa juga dimintai nasehat untuk masalah hidupnya, masalah yang kamu sendiri nggak pernah hadapi.

Atau, dalam beberapa kasus, kamu akan ditanya tentang sesuatu yang menurut mereka psikologi, padahal nggak. Pertanyaan yang saya hadapi bahkan nggak masuk akal.

Masa ada sih, hubungan posisi tai lalat sama indigo?

Kadang pertanyaan-pertanyaan seperti ini nyebelin. Tapi, kalau dilihat sebagai tantangan, ini bagus sih. Jadi memaksa kita belajar lebih banyak, kan?

 

10. Ternyata kuliahnya nggak semudah yang dibayangkan

Orang awam berpikir kuliah psikologi bicara tentang gangguan jiwa dan perasaan.

And BOY was i wrong.

Materi kuliah psikologi jauh dari kata gampang.
Bukan, bukan hitung-hitungan yang saya maksud.

Matematika di psikologi cuma menghitung statistik.
Bukan materi yang sulit, cuma butuh ketelitian aja.
Semua mahasiswa psikologi rasanya sepakat sama hal ini.

Neraka bagi saya adalah mata kuliah faal. Wah rasanya perih kalo diinget.
Jujur-jujuran aja nih, mata kuliah faal saya mendapatkan hasil yang mengenaskan.
Karena trauma, mata kuliah tersebut saya biarkan membusuk dan nggak saya ulang.

Dan nggak cuma faal, mata kuliah lain juga bikin kaget.
Satu materi mudah dipahami, sementara materi lain bisa drastis banget bedanya.

Misalnya mata kuliah psikologi belajar.

Sampai detik ini, saya masih nggak ngerti Teori Hull yang pake postulat 1 sampai 16.
Saya ngerti konsep-konsep belajar dari Pavlov dan Bandura, tapi teori Hull berada di level yang bener-bener lain.

 

11. Punya pengalaman unik sama macem-macem orang

Asiknya psikologi adalah kita jadi ketemu macem-macem orang.

Yang normal, normal bermasalah, sampai yang gangguan, semua diajak ngobrol.
Dari ngedeketin anak, sampai dansa bareng lansia.
Dari keliling di lapas anak, sampai melihat penerapan K3 di pabrik es krim.

Kamu juga bisa kenalan sama anak gifted, autis, ADHD, indigo, sampai retardasi mental.
Dari menilai gambar pohon, mengulang-ulang rekaman wawancara, sampai menebak bercak tinta.

Saya jadi tau kisah seorang homoseks yang menyimpan rahasianya demi istri dan anak, sampai transgender yang menikah sama supir taksi gara-gara diserempet.

Mahasiswa psikologi pasti seenggak-enggaknya hampir nangis ngeliat keadaan orang yang jiwanya terganggu.
Atau kaget karena tanpa sengaja membongkar rahasia orang lain lewat gambar.
Atau, tergoda untuk nyundul kepalanya asisten lab ketika revisi praktikum nggak selesai-selesai.

Semua mahasiswa psikologi pasti punya pengalaman unik sepanjang perjalanannya.
Walaupun mungkin akhirnya nggak kerja di psikologi, kuliah psikologi selalu memberi kesan yang unik dan penuh arti.

 

12. Cara pandang yang berubah

Mahasiswa psikologi semester atas gayanya beda sama yang baru belajar.
Anak-anak semester atas biasanya lebih tenang, banyak mengamati, dan hati-hati dalam menilai.
Kok bisa ya?

Karena, psikologi adalah ilmu tentang jiwa.
Semakin didalami, semakin kamu ngerti tentang jiwamu.

Mahasiswa psikologi pun sadar bahwa jiwa adalah sesuatu yang misterius. Penyebab terjadinya suatu perilaku, bisa beda antara satu orang dengan orang lain. Ini membuat mereka nggak mudah menghakimi orang lain.

Coba aja kamu nanya sesuatu sama mahasiswa psikologi. Mereka kalo ngejawab biasanya pake kata “mungkin” atau “belum tentu”. Bukan karena mereka nggak ngerti, tapi karena mereka tau bahwa diagnosa nggak bisa sembarangan.

Semakin seseorang ngerti psikologi, semakin mereka paham bahwa manusia tidaklah hitam dan putih.
Makanya, semakin dipelajari, semakin berubah cara kamu memandang manusia dan fenomenanya.

 

13.Dosennya baik semua!

Saya sering mendengar cerita temen-temen tentang gak enaknya dosen mereka.
Atau dosen yang jutek. Atau dosen yang nggak berperasaan. Atau dosen kedokteran yang ngambek kalau nggak dipanggil “dok”.

Malah, seorang temen saya cerita tentang dua dosen yang saling benci satu sama lain, sampai melemparkan perang terbuka di hadapan mahasiswa.

Ini membuat mahasiswa psikologi bersyukuuuur banget kuliah psikologi. Gimana nggak, dosennya psikolog semua! Tau kan psikolog bentuknya kayak gimana? Lembutnya kayak apa?

Dosen psikologi memancarkan aura kalem, lembut, dan penuh ketenangan. Pribadi mereka hangat dan asik diajak ngobrol.

Bahkan, kalau marah, mereka mampu menyampaikan marah mereka dengan cara yang berkelas. Nggak ada deh dosen psikologi gebrak meja atau teriak-teriak.

Ini bikin mahasiswa psikologi merasa adem dan tenang kalau bersama dosen, sesuatu yang kadang-kadang mahasiswa jurusan lain nggak dapatkan.

 


Yah! Inilah beberapa cerita tentang pengalaman kuliah psikologi.
Kuliah psikologi sama kayak kuliah lain. Ada asiknya, ada susahnya.
Tapi yang pasti: kuliah psikologi mendewasakan.

Setuju?

Yang udah kuliah psikologi, boleh dong share pengalaman kuliah psikologi kamu.
Yang mau kuliah psikologi boleh tanya-tanya kok, siapa tau bisa dibantu~

Daaahh!

99 thoughts on “Pengalaman Kuliah Psikologi: Ini 13 Hal yang Kamu Rasakan!”

  1. Kak emang kalau anak smk gak bisa yah kalau kuliah psikolog di ptn? Dan kenapa harus di swasta, kan kalau swasta biayanya lebih mahal.
    Mohon bantu jawab kak..terima kaaih

    Reply
  2. Yay, seru banget bacanya, dan kenapa aku baru nemu ini sekarang? T_T
    Seneng bgt habis baca ini karena tulisannya jadi bikin aku berimajinasi kalau kuliah psikologi nanti akan seperti yang kaka ceritakan diatas, ada senengnya so pasti ada susahnya juga, dan buat aku makin mantap untuk ambil jurusan psikologi. Dan aku juga merasa harus mempersiapkan diri ketika nanti ketemu hal-hal yang ga mudah dalam proses belajar psikologi, terimakasih ka. Semoga sehat selalu, Aamiin. ^,^

    Reply
    • yay seneng kalo nemu anak muda yang antusias mau masuk psikologi gini. semoga berhasil ya diana!

      Reply

Leave a Comment