Ingin Ke Psikolog? Ketahui Ini Biar Nggak Kaget

Home // Kepoin Psikologi // Ingin Ke Psikolog? Ketahui Ini Biar Nggak Kaget // Page 2


6. Prosesnya Mungkin Akan Membuatmu Tersiksa

Proses konsultasi mengharuskan kamu membuka lagi kenangan yang kamu kubur.

Psikolog mungkin meminta kamu menceritakan kejadian pahit yang berusaha kamu lupakan.
Ia bisa aja menyuruhmu menceritakan kebiasaan memalukan yang nggak diketahui siapapun.

Untuk orang-orang yang gengsinya tinggi, beberapa hal yang coba dibongkar psikolog mungkin akan menjatuhkan harga diri.

Tahap ini akan menyakitimu. Bahkan, keadaanmu mungkin akan lebih buruk daripada sebelum konsultasi.
Jangan berhenti! Fase kritis pasti akan muncul, namun setelahnya kamu akan berangsur membaik.

Banyak orang hanya datang sekali, lalu nggak mau balik lagi karena berbagai alasan.
Ya gimana mau sembuh kalau gitu caranya?

Ibaratnya orang operasi, badannya dibedah terus ditinggal.
Kira-kira sembuh nggak kalau kayak gitu? Nggak kan?

Makanya, kalau sudah dimulai, selesaikan!

Untuk kembali sembuh, psikolog nggak bisa kerja sendiri.
Dia juga membutuhkan kesungguhanmu untuk berubah.


7. Rahasiamu Aman Bersama Psikolog

Kamu mungkin punya rahasia yang nggak bisa kamu sebutkan.
Mungkin itu adalah suatu kebiasaan memalukan.

Untuk mengatakannya ke psikolog, kamu mungkin akan sangat malu.
Bahkan, sebelum mulai ngomong pun, kamu bisa menangis saking beratnya.
Psikolog memang dilatih untuk menghadapi hal-hal semacam itu.

Mereka nggak akan jijik, mengusirmu, atau menertawakanmu!
Apapun gangguanmu, psikolog pasti pernah menghadapi yang lebih parah.
Apapun yang keluar dari mulutmu, dia nggak akan kaget.

Katakanlah, walaupun itu rahasia besar.

Psikolog punya kode etik untuk menjaga kerahasiaan klien.
Jadi, psikolog DILARANG membeberkan rahasia klien ke siapapun.
Kalau rahasia klien bocor ke muka umum, klien berhak menuntut.

Bahkan misalnya ada klien yang pernah mutilasi orang diem-diem sekalipun.
Psikolog nggak boleh ngelapor pihak yang berwajib.

Kalau ngelapor, pihak yang dilaporkan boleh mengadu ke Himpsi.
Nanti Himpsi akan mengadili si psikolog, dan mungkin mencabut hak praktiknya.

Jadi rahasiamu aman bersama mereka.


8. Mungkin Nggak Cukup Datang Sekali

Kalau masalahnya ringan, ke psikolog mungkin cukup sekali konsultasi.
Kalau berat, kamu mungkin perlu beberapa kali ketemu.

Kenapa berkali-kali ketemu?
Yang pertama, mungkin memerlukan proses terapi.
Yang kedua, masalahnya mungkin dialami sekarang, tapi penyebabnya belum jelas.

Karena penyebabnya belum jelas, psikolog mungkin perlu menggali lebih dalam.
Misalnya kamu punya gangguan obsesi kompulsi (OCD).
Mungkin aja lo penyebabnya ada di masa kecilmu.

Makanya tadi saya bilang ke psikolog jangan nunggu parah.
Kalo parah, proses penanganannya mungkin lama.


9. Kamu Mungkin Akan Naksir Sama Psikolognya (Dan Itu Wajar)

Kalau psikologmu lawan jenis dan seumuran, sangat mungkin kamu naksir dia.
Itu wajar. Dia begitu mengerti kamu, mendukung kamu, dan perhatian sama kamu.

Kamu perlu sadar: yang kamu cintai bukanlah dia.
Yang kamu cintai adalah sikapnya.

Dia hanya bersikap profesional sebagai psikolog.
Di kehidupan nyata, dia bisa aja berbeda.

Klien boleh kok naksir ke psikolognya. Nggak dilarang.
Kalau nanti masalahmu beres, jangan terbawa perasaan ya.


10. Psikolog Juga Manusia

Seorang psikolog bisa keliru dan lupa.
Ia bisa aja nggak sabar dengan kelakuanmu yang nggak kunjung berubah.
Ia juga punya kehidupan sendiri, layaknya manusia yang lain.

Bila kelak kamu konsultasi dengan psikolog, please perlakukan dia layaknya manusia biasa.

Jangan menelpon dia di tengah malam hanya karena kamu kliennya.
Jangan marah-marah karena kamu harus menunggu lama.
Jangan membentak dia karena pertanyaannya menyinggung perasaanmu.

After all, she’s only human.


11. Masa Lalumu Mungkin Nggak Bisa Disembuhkan

Psikolog bukanlah kamus berjalan, yang punya semua solusi.
NO. Psikolog pun sama sepertimu, kadang-kadang bingung dengan masalahnya sendiri.

Lalu, apa yang dilakukan psikolog?

Mengubah pola pikirmu.
Yang dilakukan psikolog adalah mengubah caramu berpikir, mengubah caramu bersikap.

Plus, membuat kamu menerima diri sendiri.

Ibaratnya, psikolog nggak akan membunuh monster demi kamu.
Psikolog akan memberimu senjata dan mengajarkan cara pakainya.
Sehingga, bila monster lain datang, kamu bisa membunuhnya sendiri.

Barangkali ada kisah hidupmu di masa lalu yang kelam, dan kamu berusaha melupakannya.

Psikolog nggak bisa menyembuhkan masa lalumu.
Psikolog nggak akan membantumu melupakannya.

Yang dilakukan psikolog adalah memisahkan perasaanmu dari kejadian tersebut.
Sehingga, kamu nggak takut lagi. Kamu jadi bisa menerima kenyataan.
Kamu juga nggak mengalami kecemasan lagi.


Seorang anonim pernah berkata ke saya:

Sebenarnya buat apa ke psikolog?
Kalau stres yang penting adalah bersyukur, rekreasi, dan dukungan orang lain.
Cuma buang-buang uang!

Ya, saya hargai. Kondisi keuangan dan pengetahuan orang beda-beda.
Ada banyak cara untuk kembali sehat. Ke psikolog hanyalah salah satu jalan.

Sama kayak sakit. Nggak harus ke dokter, bisa ke dukun, atau minum obat alternatif.

Jalan sehat mah banyak, tinggal kamu mau pilih yang mana.
Kalau mau ke psikolog ya silakan, kalau nggak ya udah.

 

Semoga kamu tetep sehat dan selalu bahagia!

 

 

245 thoughts on “Ingin Ke Psikolog? Ketahui Ini Biar Nggak Kaget”

  1. kak gimana caranya ngobatin perasaan terluka. selama ini aku udh coba lupain tapi pasti akan muncul lagi, sedih lagi, berasa sesak banget kayak orang asma. dan terkadang pengen mati aja 🙁

    Reply
  2. kak kalau misalnya saya ingin cek keadaan mental saya yg sudah harus dibawa ke psikolog tetapi saya 16 tahun, dan saya tidak ingin merepotkan siapa” terutama orangtua saya, trs saya harus bagaimana kak, kalau dibiarkan semakin tidak karuan. terimakasih kak

    Reply
    • kamu punya bpjs kan? kalo ke puskesmas sendiri mau nggak? coba cari tau apa puskesmas di daerah rumah kamu ada poli psikologi apa nggak. kalo nggak ada, kamu ke poli umum aja terus kasi tau keluhan kamu dan minta rujukan buat ke psikolog di rumah sakit umum.

      Reply
      • Halo kak, aku mau tanya. Perlu ga ya aku ke psikolog? Soalnya aku sering ngerasa takut ketemu orang baru, aku suka panik takut kalo aku dipaksa ngelakuin hal yg ga aku suka. Kalo udh ngerasa kayak gitu aku jadi deg2an parah kadang sampe nangis jadi pikiran trus stres sendiri. Pdhal menurut temen2 dan ortu itu cuma hal sepele. Aku juga insomnia dan kadang baru bisa tidur setelah subuh. Dan akhir2 ini ngaruh ke pola datang bulan (katanya bisa dipengaruhi stres juga). Mau cerita juga enggak tau ke siapa. Makasih kak.

        Reply
        • halo loudia, kecemasan semacam ini bisa aja terjadi karena tekanan kerja, atau mungkin pressure yang sering numpuk dan membebani pikiran. mungkin kerjaan kamu punya pressure tinggi yang nggak boleh salah, dan keinginan untuk sempurna itulah yang menyerang balik kamu menjadi gampang cemas dan cepet panik.

          saya nyaranin ke psikolog sih, karena mungkin aja bukan cuma dari kerjaan tapi dari urusan pribadi juga.

          Reply
  3. hai kak. Aku gangerti sama apa yang aku rasain. Aku ngerasa sendiri, gaada temen, ngerasa orang disekitar aku benci sm aku. Aku ngerasa gabisa bahagia kalo caranya gini terus. Selalu ada waktu dimana aku aktif bangett tapi gampang tersinggung, marah. jadi abis seneng tuh kl udah kesinggung bnr2 sampe ngurung diri, SELALU ngerasa gaberguna, aneh. kadang aku suka self harm dan sempet kepikiran suicide krn gakuat sm apa yg dihadepin. aku kira aku bakal ngerasa down saat aku ada dihubungan yang toxic aja, karena aku sering direndahin,diremehin. tapi ternyata walaupun udah diakhirin rasanya berlanjut sampe skrg.pengen konsul ke psikolog tp aku cerita ke orang tua malah dibilang kurang iman. aku bingung harus gimana :(. semoga dibalass:(

    Reply
  4. Halo kak, aku beberapa minggu ini selalu ngerasa kesepian dan selalu bosan ngelakuin apa saja, aku selalu memikirkan kegagalan dan kehilangan yang pernah terjadi dalam hidup, kurang dukungan dan selalu dpt kekangan dari org tua yg buat aku patah semangat buat gapai cita” jdi aku selalu mikir hidup ku cuma sia sia. Apakah itu bisa dikatakn gejala depresi?

    Reply
  5. Hai kak , saya mau tanya
    Ahir* ini saya sering marah karena hal sepele , kaya semisal pasangan bilang apa yang menurut kita salah terus saya marah , semua hak yang dia lakukn selalu salah d mata saya ka. Entah krn hal satu ini atau ada hal lain saya sndri aja bngung ka. Tapi terkdg saya berpikir satu hal yang mmbuat saya terluka ini adalah sumber kekuatan saya ka , tp apa benar orang yang melukai kita adalh sumber kekuatan kita ?

    Reply

Leave a Comment