Seperti Apa Gejala ADHD pada Remaja Perempuan?

Home // Kepoin Psikologi // Seperti Apa Gejala ADHD pada Remaja Perempuan?

Kali ini kita akan membahas definisi gejala ADHD para remaja perempuan. Perbedaannya dengan gejala ADHD pada remaja laki-laki, dan kenapa ADHD pada cewek lebih sulit terdiagnosa.

ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang mempengaruhi fungsi berpikir. Ini membuat orang dengan ADHD sulit fokus pada satu tugas. ADHD sendiri paling sering didiagnosis selama masa kanak-kanak. Meski demikian, pada sebagian kasus ADHD dapat berkembang hingga masa dewasa.

Mungkin juga seseorang dengan ADHD terlambat mendapatkan diagnosa. Misalnya baru terdiagnosa di masa remaja, padahal ADHDnya sudah dialami sejak kecil.

Kali ini kita akan membahas seperti apa gejala ADHD pada remaja, terutama remaja cewek.

 

Apa itu ADHD?

Kita udah membahas ADHD di artikel ini, tapi coba kita refresh lagi ya.

Secara singkat, ADHD adalah kondisi perkembangan saraf yang dapat memengaruhi fungsi sehari-hari, seperti sekolah, pekerjaan, dan hubungan interpersonal.

Gejala ADHD sendiri meliputi:

· Rentang konsentrasi yang sebentar

· Ketidakmampuan untuk menyelesaikan tugas

· Kesulitan bekerja sesuai tenggat waktu

· Selalu sulit tepat waktu

· Sering merasa gelisah hingga terasa mengganggu

· Tidak bisa menunggu giliran, selalu menyela obrolan, dan secara impulsif melontarkan jawaban

 

Tanda dan Gejala ADHD pada Remaja Perempuan

Gejala ADHD pada anak laki-laki dan perempuan bisa sangat berbeda.

Sebuah studi menyebut bahwa anak perempuan lebih banyak memiliki ADHD dengan bentuk berupa kelalaian. Ini berbeda dengan remaja laki-laki yang didiagnosis dengan bentuk hiperaktif-impulsif.

Ini menjadi masalah, karena ADHD ada dua jenis; tipe yang abai dan tipe yang hiperaktif.

Tipe yang hiperaktif biasanya lebih mencolok. Kalau di sekolah, murid dengan ADHD biasanya terlihat tidak bisa duduk diam, dan selalu berbicara tidak pada waktunya. Tanda-tanda ADHD ini selaras dengan bentuk ADHD yang hiperaktif.

Kalau perempuan kan tipenya lebih berupa abai atau lalai. Remaja perempuan dengan ADHD lebih terlihat cuek, tidak mau memperhatikan, dan tidak bisa konsentrasi. Bentuk ADHD seperti ini akhirnya sering salah terdiagnosa, sehingga hanya dianggap sebagai cewek pendiam atau pemalu.

Pada remaja perempuan, gejala ADHD bisa berupa:

· Melamun

· Rasa malu

· Kecemasan/kesedihan

· Perfeksionis

 

Aku ini punya ADHD, atau jangan-jangan aku cuma pemalas?

Kalau kita simak beberapa gejala ADHD tadi, beberapa di antaranya sepintas terlihat seperti gejalanya orang malas.

Misalnya susah menyelesaikan tugas, tidak bisa konsentrasi, dan susah tepat waktu. Ini kan gejalanya orang malas ya?

Nah, bedanya ADHD dengan pemalas itu satu: remaja dengan ADHD berusaha keras melawan apa yang dia rasakan. Misalnya menyelesaikan tugas tepat waktu. Remaja dengan ADHD sebenernya sudah berusaha mengerjakan PR, tapi konsentrasinya tidak bisa diarahkan ke PR di depan mata. Ini karena reaksi kimia di otaknya yang nggak seimbang. Kalau remaja pemalas, mungkin PRnya tidak dikerjakan karena dasarnya pemalas saja.

 

Apa Dampak ADHD pada Remaja Perempuan?

ADHD, terutama jika tidak ditangani dengan serius, dapat berdampak signifikan pada gadis remaja. Dampak sosialnya berupa dianggap terlalu emosional atau bahkan hormonal.

Salah persepsi ini membuat remaja ADHD menjadi cemas, menarik diri. Ini juga membuat dia kesulitan mengelola emosinya, serta sulit punya teman di sekolah.

Ini menambah permasalahan pada remaja, yang sebenarnya sudah punya dinamika psikologisnya sendiri.

 

Mengapa ADHD pada Remaja Perempuan Sering Tidak Terdiagnosis?

Remaja perempuan bisa mengembangkan strategi koping untuk mengelola ADHD yang mereka punya. Energi yang mereka punya bisa diarahkan ke suatu hobi atau subyek yang dia sukai. Karena berusaha mengelola sendiri, akhirnya orang tua dan guru jadi tidak menyadari ADHD yang terjadi.

ADHD yang tidak ditangani dapat menjadi semakin sulit dihadapi saat dewasa. Perempuan dewasa dengan ADHD seringkali mengalami kesulitan fokus yang lebih parah dibanding laki-laki dewasa. Ini bisa jadi gejala bahwa ADHD perempuan di masa kecil tidak mendapat perhatian khusus.

 

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh Remaja dengan ADHD?

Kalau kamu seorang remaja dengan ADHD, kamu perlu mendapat diagnosa yang tepat. Ini penting supaya kamu bisa mendapatkan penanganan terbaik. Bisa berkonsentrasi itu enak lo, dan itu bagus untuk masa depan kamu.

Yang bisa kamu lakukan adalah bercerita tentang orang tua tentang kemungkinan bahwa kamu punya ADHD. Kamu bisa bercerita dengan masalah konsentrasi yang kamu alami selama ini. Katakan kalo kamu ingin mendapat penanganan yang tepat.

Jika Anda adalah orang tua yang punya anak remaja dengan ADHD, Anda perlu berbicara dengan guru di sekolah tentang perilaku anak Anda selama belajar. Ini langkah awal untuk mengumpulkan lebih banyak informasi tentang apakah ada masalah pada konsentrasinya.

Mekipun mungkin anak Anda sekilas terlihat hanya seorang pelamun dan pendiam, ada baiknya tetap berbicara dengan psikolog untuk memastikan Anak Anda memang tidak memiliki gejala ADHD.

Dan, tetap pertahankan komunikasi yang terbuka dengan anak Anda. Ini dapat mendorong anak Anda untuk jujur. Hubungan keluarga pada anak dengan ADHD sangat penting, karena inilah tempat mereka tidak harus menutupi diri.

Anda pun juga harus mencari dukungan moral. Bisa dari sahabat atau keluarga besar. Anda juga harus mengelola emosi dan psikologis Anda sendiri, agar bisa mendampingi remaja Anda semaksimal mungkin.

 

  1. Skogli EW, Teicher MH, Andersen PN, Hovik KT, Øie M. ADHD in girls and boys – gender differences in co-existing symptoms and executive function measures. BMC Psychiatry. 2013;13(1):298. doi: 10.1186/1471-244X-13-298
  2. ADDitude. ADHD in Girls: The symptoms that are ignored in females.
  3. Quinn PO, Madhoo M. A review of attention-deficit/hyperactivity disorder in women and girls: uncovering this hidden diagnosis. Prim Care Companion CNS Disord. doi: 10.4088/pcc.13r01596
  4. Vildalen VU, Brevik EJ, Haavik J, Lundervold AJ. Females with adhd report more severe symptoms than males on the adult adhd self-report scale. J Atten Disord. 2019;23(9):959-967. doi: 10.1177/1087054716659362

 

 

 

Leave a Comment