Definisi Perilaku Adiksi dan Kepribadian Adiktif di dalam Psikologi

Home // Kamus Psikologi // Definisi Perilaku Adiksi dan Kepribadian Adiktif di dalam Psikologi

Kali ini, kita akan bahas mengenai perilaku adiksi dan kepribadian adiktif, ciri-cirinya, dan jenis kecanduan menurut para ahli psikologi.

 

Definisi Perilaku Adiksi Menurut Psikologi

Jadi, apa yang dimaksud dengan perilaku adiksi?

Frankfurt (1971, dalam Watson, 2003) menggambarkan perilaku adiksi atau kecanduan sebagai “kondisi fisiologis” yang berarti seseorang “secara tak terelakkan menyerah” pada keinginan untuk menggunakan, yang “terlalu kuat untuk dilawan” dan mengakibatkan orang itu berpotensi “tidak berdaya, dilanggar oleh keinginan sendiri..”

Griffiths (2005) mengartikan perilaku adiksi sebagai perilaku individu yang ketergantungan dan kehilangan kontrol.

Chaplin (2010) menjelaskan adiksi sebagai suatu keadaan ketergantungan pada suatu obat bius atau hal yang membuat ketergantungan pada fisik dan psikologis, dan menambah pula gejala-gejala pengasingan diri dari masyarakat, apabila tidak dihentikan.

Nevid, Rothus, dan Greene (2014) menjelaskan adiksi sebagai penggunaan obat-obatan secara kompulsif yang diikuti oleh tanda-tanda ketergantungan fisik.

Orang dengan kecanduan atau substance abuse punya keinginan tak tertahankan untuk menggunakan zat tertentu, seperti alkohol atau obat-obatan, sampai penggunaan zat tersebut mengambil alih kehidupan mereka.

Pecandu alkohol ataupun narkotika akan terus menggunakan alkohol atau obat-obatan meskipun mereka tahu itu akan menyebabkan masalah.

Hal serupa juga terjadi pada kecanduan lain seperti kecanduan internet. Young (1996) menyebut yaitu ciri khas (salience), penggunaan yang berlebihan (excessive use), pengabaian pekerjaan (neglect to work), antisipasi (anticipation), ketidakmampuan mengontrol diri (lack of control), dan mengabaikan kehidupan sosial (neglect to social life).

 

Jenis Kecanduan dan Perilaku Adiktif

Para ahli membagi kecanduan menjadi dua kategori besar, yaitu:

Adiksi dapat terbentuk dalam dua cara: menggunakan atau menyalahgunakan zat secara berlebihan atau terlibat secara berlebihan dalam suatu perilaku meskipun ada konsekuensi negatifnya. Kedua jenis kecanduan ini biasanya dikenali sebagai bahan kimia atau perilaku.

Kecanduan bahan kimia. Mengacu pada kecanduan yang melibatkan penggunaan zat.

Kecanduan perilaku. Mengacu pada kecanduan yang melibatkan perilaku kompulsif. Ini adalah perilaku yang terus-menerus dan berulang yang Anda lakukan meskipun tidak memberikan manfaat nyata.

Penggunaan kata adiksi awalnya digunakan pada kecanduan obat. Meskipun demikian, definisi adiksi telah mengalami pergeseran arti dan mencakup sejumlah perilaku, seperti judi berulang, bermain video game, makan berlebihan, olahraga, hubungan percintaan, dan menonton televisi (Young, 2017).

Griffiths dalam artikelnya (2011) pernah juga menyebut workaholism sebagai sebuah perilaku kecanduan terbaru di abad 21. Meski istilah workaholic dan workaholism hanya disinggung di percakapan sehari-hari, namun tanda-tanda workaholism juga punya kemiripan dengan beberapa perilaku candu lainnya.

Kecanduan zat kimia

Dibandingkan menggunakan istilah kecanduan zat kimia, Buku DSM-V merekomendasikan penggunaan istilah “gangguan penggunaan zat kimia.”

Klasifikasi ini bisa memudahkan pembagian kriteria, sehingga diagnostik penggunaan zat kimia ini bisa dibagi antara kasus ringan, sedang, dan berat.

Banyak ahli juga lebih menyukainya karena menghindari istilah seperti “penyalahgunaan,” yang selanjutnya dapat menstigmatisasi kecanduan dan mencegah orang mencari bantuan.

Gejala umum gangguan penggunaan zat meliputi:

  • mengidam cukup kuat hingga menghambat pengguna beraktivitas
  • sensasi ketagihan dan ingin menggunakan lebih banyak
  • kegelisahan tidak dapat menemukan zat tersebut
  • menghalangi kontrol diri dalam menggunakannya, misalnya minum alkohol sambil berkendara atau sambil bekerja
  • kesulitan mengelola pekerjaan, sekolah, atau tanggung jawab rumah tangga karena penggunaan narkoba
  • rusaknya hubungan pertemanan dan kekeluargaan
  • menghalangi aktivitas yang dulunya disukai
  • tidak bisa berhenti menggunakan zat
  • gejala mengidam ketika mencoba berhenti

Apa saja yang termasuk dalam zat adiktif? BNN menyebutkan sejumlah zat adiktif yang terbagi dalam empat golongan.

Psikotropika Golongan 1

Obat-obatan ini berpotensi tinggi menyebabkan kecanduan.

Jenis obat ini tidak untuk pengobatan, melainkan hanya sebagai pengetahuan saja. Contoh dari psikotropika golongan 1 misalnya LSD, DOM, Ekstasi, dan lain-lain.

Pemakaian zat golongan 1 memberi efek halusinasi bagi penggunanya, serta memengaruhi psikologis secara drastis. Efek buruk penggunaannya menimbulkan kecanduan yang mengarah pada overdosis hingga kematian.

Psikotropika Golongan 2

Golongan 2 juga berisiko kecanduan yang cukup tinggi.

Meski dapat beresiko kecanduan, psikotropika jenis ini bisa digunakan untuk pengobatan sejumlah penyakit. Sebab itu, psikotropika golongan 2 bisa digunakan selama didampingi resep dokter.

Termasuk dalam psikotropika golongan 2 adalah Sabu atau Metamfetamin, Amfetamin, Fenetilin, dan zat lainnya.

Psikotropika Golongan 3

Golongan 3 memberi efek candu sedang. Bisa digunakan untuk pengobatan namun harus sesuai dengan resep dokter.

Contoh dari psikotropika golongan 3 misalnya Mogadon, Brupronorfina, Amorbarbital, dan lain-lain yang totalnya ada 9 jenis.

Psikotropika Golongan 4

Golongan 4 berisiko kecanduan paling kecil dibandingkan yang lain.

Penyalahgunaan obat-obatan pada golongan 4 terbilang cukup tinggi, karena bisa ditemukan dengan mudah. Contoh obatnya adalah Lexotan, Pil Koplo, Sedativa atau obat penenang, Hipnotika atau obat tidur, Diazepam, Nitrazepam, dan masih banyak zat lainnya yang totalnya ada 60 jenis.

Selain psikotropika, ada juga zat-zat penyebab candu lain seperti alkohol.

 

Perilaku kecanduan

Tanda-tanda umum dari kecanduan perilaku meliputi:

  • menghabiskan banyak waktu untuk terlibat dalam perilaku tersebut
  • Ingin melakukan perilaku tersebut meski itu berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari, tanggung jawab, atau pekerjaan
  • menggunakan perilaku tersebut untuk melarikan diri dari perasaan yang tidak diinginkan
  • berbohong kepada orang lain untuk menyembunyikan perilaku itu
  • sulit menahan diri untuk melakukan perilaku itu
  • mudah marah, gelisah, cemas, depresi, atau gejala menagih lainnya saat mencoba berhenti

Beberapa jenis kecanduan perilaku di antaranya:

  • kecanduan gadget
  • kecanduan pornografi
  • kecanduan makanan
  • kecanduan TV
  • Kecanduan Facebook (media sosial)

DSM-5 sekarang mengenali dua kecanduan perilaku baru, yaitu:

  • kecanduan judi
  • gangguan permainan internet (internet gaming disorder)

Sebagian besar psikolog dan ahli psikologi setuju bahwa pola perilaku tertentu dapat menjadi gangguan, tetapi masih ada beberapa perdebatan seputar kapan suatu perilaku menjadi kecanduan dan perilaku apa saja yang dapat membuat ketagihan.

Misalnya, beberapa orang mungkin setuju bahwa ada kecanduan belanja, seks, dan olahraga ada, tetapi tidak yakin bahwa menggunakan gadget berlebih disebut kecanduan.

APA memilih untuk tidak memasukkan pola perilaku ini ke dalam DSM-5, dengan alasan kurangnya bukti ilmiah dan peer review yang diperlukan untuk mengembangkan kriteria standar untuk diagnosis.

Tidak semua perilaku adiktif melibatkan penggunaan narkoba atau alkohol. Ada juga jenis perilaku kecanduan makan, yang terkait dengan obesitas .

Meski obesitas dipandang sebagai kondisi fisiologis, tapi bisa juga dikaitkan dengan pola makan berlebihan dan hubungan adiktif dengan makanan. Ini umumnya bisa ditelusuri ke faktor kepribadian yang dikombinasikan dengan respon yang dipelajari.

Jenis lain dari perilaku kecanduan yang tidak terkait narkoba adalah judi kompulsif. Meski sekitar setengah dari semua orang pernah terlibat dalam suatu bentuk judi dalam hidup mereka, penjudi kompulsif menjalankan aktivitas ini sampai mengganggu kehidupan mereka secara psikologis dan finansial.

Gangguan kontrol impuls, seperti makan berlebihan, merupakan jenis perilaku kompulsif khusus yang memberikan kepuasan jangka pendek tetapi berbahaya dalam jangka panjang.

Berbeda dengan berbagai jenis perilaku yang berpotensi menimbulkan kecanduan lainnya, kecanduan fisik melibatkan ketergantungan pada substansi pembentuk kebiasaan yang ditandai oleh toleransi dan gejala perubahan fisik yang jelas terlihat.

 

Ciri-ciri Perilaku Adiksi Itu Apa Saja?

Perilaku kecanduan memang beragam, tapi perilaku yang bersifat adiktif cenderung punya kesamaan.

Kecanduan umumnya dikaitkan dengan menghilangkan kecemasan atau memblokir suatu jenis perasaan tidak nyaman lainnya.

Pada tingkatan tertentu, orang yang terlibat dalam perilaku adiktif cenderung memusatkan hidup dengan perilaku adiktif tersebut sebagai pusatnya; bahkan dalam kasus-kasus ekstrem mereka akan melakukan segalanya demi mendapatkan zat atau melakukan perilaku adiktif tersebut.

Kecanduan membuat mereka mengabaikan area lain dalam hidup mereka. Mereka umumnya tertutup tentang kecanduan ini, entah karena malu atau supaya akses mereka ke suatu candu ini tidak terhalangi.

Ketika ketahuan dan dikonfrontir, mereka umumnya menyangkal bahwa mereka memiliki masalah, meskipun secara pribadi mereka menyesali perilaku kecanduan mereka, dan seringkali sudah berusaha berhenti tapi tidak berhasil.

Mereka cenderung mencari pembenaran atas kecanduan mereka, dan mengatakan pada diri sendiri bahwa mereka bisa berhenti kapan pun mereka mau.

Mereka mungkin juga menyalahkan orang lain atas kecanduan mereka dan sering mengalami perubahan suasana hati yang sering dan tidak terkendali .

Penyalahgunaan zat dan ketergantungan (terkait substansi- gangguan) adalah salah satu gangguan psikologis, dalam termasuk dalam daftar sindrom klinis utama di dalam buku DSM V dan PPDGJ.

Zat psikoaktif lain yang  sering dikaitkan dengan penyalahgunaan dan ketergantungan adalah barbiturat); narkotika (opium dan turunannya, termasuk heroin); stimulan (amfetamin dan kokain); obat penenang (seperti Librium dan Valium); dan  halusinogen ganja , mescaline, psilocybin, LSD, dan PCP).

 

Penyebab Perilaku Adiksi Itu Apa Saja Secara Psikologis?

Meski penyalahgunaan dan ketergantungan narkoba dapat terjadi pada usia berapa pun, Kecanduan paling sering terjadi pada masa remaja dan dewasa awal.

Penyebab penyalahgunaan zat kini berlipat ganda. Beberapa orang berisiko lebih tinggi dalam mengalami ketergantungan karena faktor genetik atau fisiologis.

Para peneliti telah menemukan bahwa anak-anak dari orang tua pecandu alkohol dua kali lebih rentan mengalami candu alkohol daripada orang lain.

Meski candu alkohol diduga dikontribusi oleh faktor keturunan, fakta bahwa mayoritas orang dengan alkoholik tidak menjadi pecandu alkohol itu sendiri menunjukkan ada pengaruh faktor-faktor psikososial, termasuk faktor-faktor kepribadian dan berbagai tekanan lingkungan, seperti masalah pekerjaan atau perkawinan.

Variasi dalam insiden candu alkohol di antara kelompok etnis yang berbeda menunjukkan bahwa pembelajaran sosial juga berperan dalam kecanduan.

Pengaruh orang tua, terutama dalam social learning, memiliki dampak yang kuat pada perilaku anak-anak dan  remaja. Misalnya apabila orang tua ada yang pecandu alkohol, maka anaknya kemungkinan pecandu alkohol juga.

Candu ponsel dan candu sosial media juga mulai dapat dimasukkan ke dalam perilaku kecanduan.

 

Menangani perilaku adiksi

Kecanduan sulit diobati. Perilaku adiktif sering melibatkan masalah psikologis jangka panjang dan menyebabkan stres dalam kehidupan seseorang.

Tingkat “penyembuhan” awal yang diikuti dengan kambuh sangat tinggi, dan banyak yang menganggap pemulihan adalah proses yang harus dilakukan seumur hidup.

Adiksi secara fisiologis bisa mengubah otak seseorang, hingga meskipun sudah sembuh, sulit bagi orang tersebut untuk terpapar sesuatu yang ia candu tanpa kembali kambuh. Sehingga, penting bagi seorang pecandu yang ingin sembuh untuk tidak melihat, mengalami, atau mendekati sesuatu yang ia candu tersebut.

Orang-orang yang kecanduan suatu jenis kegiatan — seperti belanja atau makan kompulsif — yang darinya mustahil untuk sepenuhnya menjauhkan diri, harus belajar memahami dan mengubah perilaku mereka.

Langkah pertama dalam proses pemulihan adalah mengakui bahwa mereka mengakui adanya masalah dan mencari bantuan. Intervensi biologis mungkin diperlukan, termasuk obat untuk mengobati gejala penarikan dan pengobatan untuk kekurangan gizi.

(Banyak pecandu heroin diberikan metadon, opiat sintetis yang bersifat adiktif tetapi tidak lebih berbahaya dari pada heroin). Ada banyak jenis intervensi psikologis yang tersedia, ditawarkan dalam bentuk mulai dari konseling hingga program rawat inap.

Beberapa cara menangani perilaku adiksi berupa terapi kelompok ; intervensi lingkungan (mengubah faktor-faktor pembentuk kecanduan dalam lingkungan sosial pecandu ); terapi perilaku , dan hipnoterapi.

Referensi:

  • Frankfurt H. [1971]. Freedom of the will and the concept of a person. In: Watson G, editor. Free will. Oxford University Press; Oxford, UK: 2003. pp. 322–336. [Google Scholar]
  • Compton WM, Thomas YF, Stinson FS, Grant BF. Prevalence, correlates, disability, and comorbidity of DSM-IV drug abuse and dependence in the United States: Results from the National Epidemiologic Survey on Alcohol and Related Conditions. Archives of General Psychiatry. 2007;64(5):566–576. [PubMed] [Google Scholar]
  • Pickard H. (2012). The Purpose in Chronic Addiction. AJOB neuroscience, 3(2), 40–49. https://doi.org/10.1080/21507740.2012.663058
  • Maulana, R. (2022, August 10). PsikologiHore!; www.psikologihore.com. https://www.psikologihore.com/
  • https://www.self.com/story/types-of-addiction
  • https://www.healthline.com/health/types-of-addiction
  • Nevid, J. S., Greene, B., Johnson, P. A., Taylor, S., & MacNab, M. (2014). Essentials of Abnormal Psychology.
  • Chaplin, J. P. (2010). Dictionary of Psychology. Dell.
  • Griffiths, M. (2005) A ‘components’ model of addiction within a biopsychosocial framework, Journal of Substance Use, 10:4, 191-197, DOI: 10.1080/14659890500114359
  • Griffiths, M. (2011). Workaholism—A 21st-century addiction. The Psychologist, 24(10), 740–744.