Bagaimana pekerjaan psikolog? Seperti apa sih job descnya psikolog?

Di balik pekerjaan mereka sebagai psikolog, ada beberapa hal yang sering sekali psikolog temui dan rasakan. Mereka pengeeen banget mengatakan ini ke klien, tapi mereka memilih untuk bungkam.

Ijinkan saya untuk mengutarakan beberapa. Kalau kamu bercita-cita jadi psikolog, kamu jadi tau sisi lain yang akan kamu hadapi.

Siap?

1. Sebagai psikolog, kadang-kadang kamu pengen marah sama klien

Psikolog berusaha memberikan yang terbaik untuk kliennya. Entah itu dalam bentuk terapi, tugas yang harus dikerjakan di rumah, saran… pokoknya, psikolog berusaha sekuat tenaga buat kebaikan klien.

Tapi, masalahnya… kadang-kadang klien keras kepala. Terapi terputus di tengah jalan, tugas nggak dikerjakan, saran nggak didengar… Ini kadang-kadang bikin para psikolog geregetan pengen ngomel ke klien.

 

2. Kadang psikolog ngomongin klien ke psikolog lain

Memang sih ada peraturan bahwa psikolog dilarang membicarakan kliennya ke orang lain. Kalau ketauan, izin praktik dan gelarnya bisa dicabut.

Tapi ada pengecualian lo untuk ini. Psikolog boleh ngomongin permasalahan kliennya ke psikolog lain, selama tujuannya untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Dan yang paling penting, identitas klien harus tetap dirahasiakan.

Boleh ngomongin, tapi cuma ke sesama psikolog.

 

3. Sometimes they don’t practice what they preach

Seorang psikolog yang saya kenal bisa menghentikan kebiasaan merokok.

Melalui hipnosis, klien bisa berhenti merokok dalam sekali duduk.

Uniknya, si psikolog ini adalah perokok berat.
Kata beliau,”kenapa saya harus berhenti merokok? wong saya merasa baik-baik saja“.

Kadang-kadang psikolog tidak mempraktikkan apa yang mereka sarankan.

Kaget? Hehehe. Tapi bukannya itu wajar ya?

Contohnya kayak pelatih bola. Apakah pelatih bisa melakukan yang ia minta pada pemain? Belum tentu.

Tapi, pelatih bisa melihat potensi dan batasan yang pemainnya belum tentu sadari!

Gitu juga dengan psikolog. Bisakah psikolog melakukan yang ia katakan pada kliennya? Belum tentu.

Tapi psikolog dibekali dengan keterampilan memahami karakter, batasan, dan potensi orang lain.

Pemahaman inilah yang ia gunakan untuk memberikan saran pada klien. Si psikolog mungkin nggak bisa melakukan yang ia sarankan. Soalnya, potensi dan karakternya mungkin nggak sama dengan kliennya.

Toh, tiap orang beda-beda. Iya apa iya? 😉

 

4. Kamu sebagai psikolog akan merasa bingung sama masalah klien.

Psikolog bukan wikipedia dan google, yang bisa menjawab semua masalah.

Psikolog punya satu kebiasaan: kalau ditanya, dia akan bertanya balik.

Iklan!

Ini karena jiwa bukan matematika, yang 1+1 selalu 2. Dalam jiwa, nggak ada sebab yang super pasti.

Makanya psikolog jarang ngasih solusi langsung. Bahkan, kadang mereka pun akan sama bingungnya denganmu.

Tapi satu hal yang diyakini para psikolog: jawabannya sudah ada, cuma belum keliatan.
Tugas psikolog adalah menguraikan pikiran klien yang kusut, membentangnya, dan membiarkan klien menemukan jawabannya.

Semua yang baik butuh waktu.

 

bagaimana pekerjaan psikolog

5. Psikolog pada akhirnya akan bekerja bukan demi uang

Kalau dihitung dari profit, uang sebagai psikolog  nggak sebanding sama capeknya.
Makanya psikolog juga sekalian buka biro psikologi. Ada juga yang jadi trainer.

Tapi, mereka yang melakukan praktik dan penanganan klien murni melakukannya untuk pengabdian.

Ada rasa puas yang terbayarkan bila klien berhasil menangani masalahnya.

 

6. Bagaimana Pekerjaan Psikolog? Psikolog akan menghadapi satu klien dalam waktu berbulan-bulan sampai tahunan.

 

Terapi untuk kesehatan mental adalah proses dua arah. Selain itu prosesnya juga lama, tergantung jenis permasalahan dan terapi yang dipilih.

Satu hal yang akan membantu efektivitas terapi adalah kerja sama dan memberikan tanggapan. Dengan inilah proses terapi akan berjalan lebih efektif.

Malah bisa aja jadi lebih cepat dari yang diharapkan. Lumayan kan, bisa hemat duit.

 

7. Sebagian psikolog ada yang kurang terlatih

Tiap psikolog berbeda-beda. Baik dari karakter, kecakapan, dan pengalamannya.

Ada sebagian psikolog yang punya bermacam-macam kemampuan. Setelah lulus, ia membekali dirinya dengan bermacam-macam training, dan melahap buku serta jurnal penelitian.

Ada juga psikolog yang habis lulus nggak pegang-pegang buku lagi. Gitu juga ada. Ada juga yang baru lulus, alias masih minim pengalaman.

Lalu, apakah yang paling berpengalaman akan jadi yang paling laris?

Yaaa belum tentu juga. Biasanya makin jago psikolog, tarifnya juga lebih waw.

Makanya psikolog fresh graduate pun tetep punya peluang mendapatkan klien. Jadi kamu nggak perlu berkecil hati yes.

 

8. Kamu mungkin akan ditinggal sama klien di tengah jalan

Saya pernah bahas ini di sini.

Tiap psikolog beda karakter. Ada yang bakal cocok sama klien tertentu, ada yang nggak.
Tergantung sifat dan sensitivitas klien juga.

Ada klien yang nggak bisa dilembutin. Dia malah mengontrol kamu sebagai psikolog.

Ada juga klien yang nggak mau ditegasin. Katanya dia bukan anak kecil lagi. Ujungnya, malah sesi konselingnya jadi nggak berlanjut.

 

9. Sebagai psikolog, kadang kamu jadi nggak sabar mendengar omongan klien

Jadi psikolog memang perlu sabar.

Tapi ada juga saatnya mereka menyembunyikan tangan di kolong meja, meremas pena sampai hampir patah. Itu terjadi kalau ketemu klien yang nggak bisa diem.

Ada saatnya mereka kayak senyum manis, tapi dalem hati mereka teriak,”UDAH WOY OGUT LAGI YANG NGOMONG!”

Ya… jadi psikolog memang perlu sabar. Yang banyak.
Beli sabar di mana, ngomong-ngomong?

 

10. Psikolog akan memberi PR ke klien.

Proses perbaikan dan penanganan juga perlu dilanjutkan di rumah,

Makanya, sepertti dokter yang nyuruh minum obat, psikolog juga kadang ngasih PR.

PR ini bertujuan agar klien lebih bertanggung jawab dalam proses penanganan dirinya, dan supaya terjadi upaya dua arah antara psikolog dan klien.

PR ini biasanya simpel; mencatat mood seharian, apa aja yang terjadi hari ini, tadi bangun tidur jam berapa, dan semacamnya.

PR seperti ini juga bertujuan mencatat progres dan sebab klien mengalami gejala berulang.

 

11. Kamu kelak akan dibohongi klien.

Kamu sebagai psikolog kelak akan jago lah mencium kebohongan. Tapi somehow ada juga klien yang mencoba menutupi sebagian cerita.

Sebab klien berbohong kan macem-macem. Tapi biasanya karena malu, nggak mau ngerasa bersalah, atau supaya terlihat sebagai victim dalam permasalahannya.

Ketika dibohongi, tentu kamu nggak bisa ngapa-ngapain selain berlagak percaya.

Paling-paling nanti juga klien ngaku sendiri.

 

12. Bagaimana Pekerjaan Psikolog? Kamu akan menemukan klien yang kegeeran.

Kegeeran itu apa? Kegeeran itu ngerasa seolah orang yang ramah itu naksir sama dia.

Kegeeran itu juga bisa terjadi pada klien.

Tentu udah jadi tugas psikolog untuk menanyakan kabar klien.

Saat klien menangis, kamu akan menyediakan tisu. Kamu juga siap mendengarkan keluh kesahmu.

Tapi buat sebagian klien yang nggak pernah merasakan ini sebelumnya, ini disalahtafsirkan sebagai cinta.

Tentu udah jadi tugas kamu untuk tetep bersikap profesional dan menjaga jarak.

 

13. Sebagai psikolog, kamu akan ketemu mantan klien di tempat umum.

Mungkin suatu saat kamu akan berpapasan dengan mantan klien.

Sebagian akan menyapa kamu, sebagian lagi nggak.

Tapi kamu jangan prasangka buruk dulu yaaa. Siapa tau bukan karena sombong, tapi karena ke psikolog adalah hal yang dia rahasiakan. Mungkin selama ini dia nggak pernah cerita sama siapa-siapa kalo dia konsultasi ke kamu.

Apa yang harus dilakukan?

Tenang ajaaa.

Pura-pura nggak kenal juga nggak apa-apa. Kamu harus mengerti itu.

 


Nah kira-kira gitu ya dinamika dan bagaimana pekerjaan psikolog. Semoga abis baca ini kamu tetep semangat dengan dunia psikologi ya. Semangattt!

Author: Robi Maulana

Yang nulis di PH. Sering ada bahan tulisan tapi buntu di tengah jalan. Sekarang main instagram tapi followernya masi dikit.

3 Replies to “Bagaimana Pekerjaan Psikolog? Ini Sisi Lain yang Mereka Rahasiakan

Ada komentar? Mau nanya? Mau curhat? Silakan tulis di sini :)