Apa itu Terapi Penerimaan dan Komitmen?

Home // Istilah Psikologi // Apa itu Terapi Penerimaan dan Komitmen?

Kali ini kita akan bahas terapi psikologis yang lagi populer. Namanya terapi penerimaan dan komitmen. Kayak apa sih terapi ini? Seperti apa cara kerjanya? Efektif nggak? Skuy lah kita bahas.  

 

Pengertian Terapi Penerimaan dan Komitmen

Terapi penerimaan dan komitmen (terapi ACT) adalah jenis psikoterapi berbasis mindfulness. Terapi ini membantu kamu tetap fokus pada keadaan, serta bisa menerima pikiran dan perasaan dengan lebih ikhlas.

ACT bertujuan membantu kamu move on dari suatu emosi yang sulit. Sehingga, kamu bisa memfokuskan energi kamu pada proses healing daripada memikirkan hal negatif. Dengan bimbingan seorang psikolog atau psikiater, kamu akan mempelajari serangkaian mekanisme koping yang paling pas dengan situasi kamu. Mekanisme ini bisa kamu jadikan pegangan dalam menangani masalah kompleks sepanjang hidup kamu.

Melalui pendekatan ACT, penderitaan manusia secara psikologis adalah karena perilaku yang tidak fleksibel dan tidak efektif. Perilaku tidak fleksibel ini maksudnya adalah perilaku yang kaku, nggak mau terbuka dengan keadaan, overthinking, cemas berlebih, pengalaman avoidant, pola pikir yang sempit, kesulitan mengambil sudut pandang berbeda, kehilangan fokus pada keadaan saat ini, dan kegagalan untuk mengambil langkah-langkah perilaku yang berkomitmen.

Pendekatan Terapi Penerimaan dan Komitmen membantu seseorang lebih menerima kenyataan. Ini juga membantu seseorang untuk berkomitmen, melihat suatu kenyataan melalui sudut pandang berbeda, dan lebih ikhlas pada suatu pengalaman. Terapi ini juga bisa membantu untuk fokus ke saat kini, dan bukannya overthinking atau berlarut dalam duka.

 

Baca juga arti dari berbagai istilah psikologi di sini :*

 

Seperti Apa Cara Kerja Terapi Penerimaan dan Komitmen?

Bagaimana cara kerja terapi penerimaan dan komitmen?

Terapi Penerimaan dan Komitmen punya enam proses dalam menolong seseorang.

Enam proses ini berfungsi sebagai kerangka kerja untuk mengembangkan fleksibilitas psikologis seseorang (Harris, 2011). Keenam proses inti ACT tersebut adalah:

• Penerimaan;

• Disonansi kognitif;

• Menjadi sadar;

• Diri sendiri sebagai Konteks;

• Nilai;

• Tindakan Berkomitmen.

Kita bahas satu per satu!

Penerimaan dalam Terapi ACT

Penerimaan adalah upaya kita melawan insting dalam menghindari pemikiran tentang pengalaman negatif atau berpotensi berbahaya. Kadang ketika seseorang mengalami pengalaman tidak menyenangkan, dia menyangkalnya atau berusaha memendamnya.

Mekanisme pertahanan yang nggak efektif ini akan mendatangkan masalah psikologis. Makanya, dilakukan penerimaan. Membiarkan pengalaman yang nggak menyenangkan tanpa berusaha menyangkal atau mengubahnya adalah pilihan aktif yang penuh upaya.

 

Disonansi Kognitif dalam Terapi ACT

Disonansi kognitif adalah proses mengubah cara orang bereaksi terhadap pikiran dan perasaan mereka.

Terapi Penerimaan dan Komitmen nggak berusaha membatasi diri terhadap pengalaman negatif, melainkan untuk menghadapinya dengan cara yang lebih berani tanpa berusaha kabur dari pengalaman tersebut.

 

Meningkatkan Awareness dalam Terapi ACT

Meningkatkan awareness terhadap keadaan saat ini adalah praktik menyadari keadaan yang ada tanpa menilainya sebagai baik atau buruk. Ini efektif untuk menghadapi overthinking atau perasaan cemas berlebih. Dengan kata lain, kita bisa mengalami keadaan tanpa berusaha untuk memprediksi atau mengubahnya.

 

Diri sebagai konteks dalam Terapi ACT

Konsep diri sebagai konteks maksudnya adalah menyadari bahwa kamu lebih dari sekedar jumlah pengalaman, pikiran, dan emosi.

Dalam konteks ini, hidup dan diri adalah kualitas yang kita pilih untuk diperjuangkan. Kita semua memiliki nilai-nilai yang bisa memandu tindakan kita, secara sadar maupun tidak. Melalui ACT, kamu akan diperkenalkan dengan seperangkat metode untuk bisa menjalani hidup dengan mengikuti nilai-nilai yang kamu anut.

 

Tindakan berkomitmen dalam Terapi ACT

Terakhir, ACT akan membantu klien dalam membuat komitmen jangka panjang dan menjalani kehidupan yang konsisten dengan nilai-nilai mereka.

Perubahan perilaku positif tentu nggak bisa terjadi kecuali kita tahu bagaimana dampak perilaku itu pada kita.

Makanya, di tahap ini kamu akan diminta untuk menetapkan tindakan-tindakan positif yang mengubah diri, dan berkomitmen untuk terus melakukan tindakan itu.

 

Siapa yang Boleh Mendapatkan Terapi Penerimaan dan Komitmen?

Orang-orang dengan masalah kejiwaan seperti kecemasan, depresi, OCD, kecanduan, dan penyalahgunaan zat semuanya dapat memperoleh manfaat dari ACT dan Terapi Kognitif Berbasis Perhatian (MBCT).

ACT membantu mengembangkan fleksibilitas psikologis dan merupakan bentuk terapi perilaku yang menggabungkan keterampilan mindfulness dengan praktik penerimaan diri. Komitmen memainkan peran kunci ketika bertujuan untuk lebih menerima pikiran dan perasaan kamu.

 

Apakah Terapi Penerimaan dan Komitmen Efektif?

Nah, mungkin kamu sekarang bertanya-tanya: apakah terapi ACT ini efektif? Apa udah terbukti berhasil?

Beberapa penelitian mencoba menelusuri dampak ACT pada sejumlah klien dengan kondisi psikologis.

Sebagian uji klinis mengenai terapi penerimaan komitmen menilai bahwa proses ACT bisa memprediksi munculnya fleksibilitas psikologis (Hayes dkk, 2009).

Berbagai uji studi menemukan ketidakfleksibelan psikologis bisa memunculkan dampak buruk bagi kesehatan mental. Studi lintas seksional pada orang dewasa dan remaja, misalnya, telah menemukan hubungan positif antara ketidakfleksibelan psikologis dan sebagian besar bentuk psikopatologi (Chawla dan Ostafin; Greco et al.; Howe-Martin et al.; Venta dkk).

Sementara, uji prospektif menunjukkan bahwa kekakuan psikologis berperan dalam timbulnya gangguan mood dan kecemasan. Ketidakfleksibelan psikologis dikaitkan dengan gangguan mood dan kecemasan saat ini dan perubahan yang diprediksi dalam waktu status diagnostik.

Ketidakfleksibelan psikologis juga berdampak pada kesehatan fisik. Ini dibuktikan oleh penelitian dari Dahl (2004), Butler dan Chiarrochi (2007), McCracken (1998), dan Dindo dkk (2014). Dari berbagai penelitian ini, terbukti bahwa psikologis yang nggak fleksibel bisa menurunkan kualitas hidup, memunculkan sensasi nyeri, dan jadi sering menggunakan layanan kesehatan.

Studi mengenai penanganan dengan metode Terapi Penerimaan dan Komitmen punya dampak posittif yang krusial.

Peningkatan fleksibilitas psikologis bisa memprediksi berkurangnya gejala depresi pada klien dengan gangguan kepribadian borderline (Berking dkk, 2009).

Intervensi pola hidup diabetes ditambah dengan terapi penerimaan dan komitmen juga berdampak bagus. Ini bisa menghasilkan peningkatan kadar glukosa darah, perawatan diri diabetes yang lebih baik, dan tingkat keikhlasan dalam menghadapi diabetes yang lebih tinggi. Ini lebih baik dibanding perawatan yang hanya berbasis intervensi pola hidup diabetes aja.

Selanjutnya, peningkatan fleksibilitas psikologis melalui terapi penerimaan dan komitmen bermanfaat dalam menghadapi depresi dan kecemasan.

Penelitian lain dari Wicksell, Olsson, dan Hayes (2010) menemukan kalo fleksibilitas psikologis secara signifikan bisa membantu meningkatkan well-being pada penderita nyeri kronis.

Penelitian terkait terapi komitmen dan penerimaan ini masih harus dikembangkan sih. Tapi secara umum, kita bisa liat ya kalo terapi ACT ini punya potensi yang menjanjikan.

 

Bisakah Terapi Penerimaan dan Komitmen Dilakukan Sendiri?

Ada beberapa pengembangan ACT yang bisa dilakukan tanpa perlu ke psikolog. Tentu ini nggak bisa menggantikan terapi ACT yang asli, tapi ini bisa membantu kamu menerima kenyataan. Ini juga membantu menguatkan psikologis kamu, jadi kamu bisa healing lebih cepat.

Beberapa terapi ACT ini saya tulis di sini ya.

 

Referensi Jurnal Terapi Penerimaan

Ada nggak sih referensi jurnal terkait terapi ACT? Ada! Ini beberapa di antaranya:

1. Barlow DH. Psychological treatments. American Psycholc. 2004;59(9):869. doi: 10.1037/0003-066X.59.9.869. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

2. Seligman MEP. The effectiveness of psychotherapy: the Consumer Reports study. Am Psychol. 1995;50:965–974. doi: 10.1037/0003-066X.50.12.965. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

3. Kroenke K, Swindle R. Cognitive-behavioral therapy for somatization and symptom syndromes: a critical review of controlled clinical trials. Psychother Psychosom. 2000;69:205–215. doi: 10.1159/000012395. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

4. Barlow DH, Levitt JT, Bufka LF. The dissemination of empirically supported treatments: a view to the future. Behav Res Ther. 1999;37:S147–S162. doi: 10.1016/S0005-7967(99)00054-6. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

5. Baker TB, McFall RM, Shoham V. Current status and future prospects of clinical psychology toward a scientifically principled approach to mental and behavioral health care. Psychol Sci Public Interest. 2008;9(2):67–103. doi: 10.1111/j.1539-6053.2009.01036.x. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

6. Wierzbicki M, Pekanik G. A meta-analysis of psychotherapy dropout. Prof Psychol: Res Pr. 1993;24:190–195. doi: 10.1037/0735-7028.24.2.190. [CrossRef] [Google Scholar]

7. Wierzbicki M, Pekanik G. The relationship between expected and actual psychotherapy treatment duration. Psychotherapy. 1986;23:532–534. doi: 10.1037/h0085653. [CrossRef] [Google Scholar]

8. Kazdin AE. Mediators and mechanisms of change in psychotherapy research. Ann Rev Clin Psychol. 2007;3:1–27. doi: 10.1146/annurev.clinpsy.3.022806.091432. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

9. Dimidjian S, Arch JJ, Schneider RL, Desormeau P, Felder JN, Segal ZV. Considering meta-analysis, meaning, and metaphor: A systematic review and critical examination of “third wave” cognitive and behavioral therapies. Behav Ther. 2016;47:886–905. doi: 10.1016/j.beth.2016.07.002. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

10. Barlow DH, Allen LB, Choate ML. Toward a unified treatment for emotional disorders. Behav Ther. 2004;35(2):205–230. doi: 10.1016/S0005-7894(04)80036-4. [CrossRef] [Google Scholar]

11. Foundation RWJ. Chronic Care: Making the Case For Ongoing Care. Princeton, NJ: Robert Wood Johnson Foundation; 2010. [Google Scholar]

12. Evans DL, Charney DS, Lewis L, et al. Mood disorders in the medically ill: scientific review and recommendations. Biol Psychiatry. 2005;58:175–189. doi: 10.1016/j.biopsych.2005.05.001. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

13. Lowe B, Spitzer RL, Williams JB, et al. depression, anxiety and somatization in primary care: syndrome overlap and functional impairment. Gen Hosp Psychiatry. 2008;30:191–199. doi: 10.1016/j.genhosppsych.2008.01.001. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

14. Merikangas KR, Ames M, Cui L, et al. The impact of comorbidity of mental and physical conditions on role disability in the US adult household population. Arch Gen Psychiatry. 2007;64(10):1180–1188. doi: 10.1001/archpsyc.64.10.1180. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

15. Kroenke K, Spitzer RL, Williams JB, et al. Anxiety disorders in primary care: prevalence, impairment, comorbidity, and detection. Ann Intern Med. 2007;146:317–325. doi: 10.7326/0003-4819-146-5-200703060-00004. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

16. Mitchell AJ, Vaze A, Rao S. Clinical diagnosis of depression in primary care: a meta-analysis. Lancet. 2009;374:609–619. doi: 10.1016/S0140-6736(09)60879-5. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

17. Lurie IZ, Manheim LM, Dunlop DD. Differences in medical care expenditures for adults with depression compared to adults with major chronic conditions. J Ment Health Policy Econ. 2009;12:87–95. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]

18. Domino ME, Beadles CA, Lichstein JC, et al. Heterogeneity in the quality of care for patients with multiple chronic conditions by psychiatric comorbidity. Med Care 2014;52(3 Suppl. 2):S101–S109. [PubMed]

19. DiMatteo MR, Lepper HS, Croghan TW. Depression is a risk factor for noncompliance with medical treatment: meta-analysis of the effects of anxiety and depression on patient adherence. Arch Intern Med. 2000;160:2101–2107. doi: 10.1001/archinte.160.14.2101. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

20. Spleen AM, Lengerich EJ, Camacho FT, Vanderpool RC. Health care avoidance among rural populations: results from a nationally representative survey. J Rural Health. 2014;30:79–88. doi: 10.1111/jrh.12032. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

21. Moos RH, Schaefer JA. Coping resources and processes: current concepts and measures. In: Goldberger L, Breznitz S, editors. Handbook of Stress: Theoretical and Clinical Aspects. 2. New York City: Free Press; 1993. pp. 234–257. [Google Scholar]

22. Carver CS, Pozo C, Harris SD, et al. How coping mediates the effect of optimism on distress: a study of women with early stage breast cancer. J Pers Soc Psychol. 1993;65:375–390. doi: 10.1037/0022-3514.65.2.375. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

23. Friedman LC, Nelson DV, Baer PE, et al. Adjustment to breast cancer: a replication study. J Psych Oncol. 1991;8:27–40. doi: 10.1300/J077v08n04_02. [CrossRef] [Google Scholar]

24. McCracken LM, Vowles KE. Acceptance of chronic pain. Curr Pain Headache. 2006;10:90–94. doi: 10.1007/s11916-006-0018-y. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

25. Vowles KE, McNeil DW, Gross RT, et al. Effects of pain acceptance and pain control strategies on physical impairment in individuals with chronic low back pain. Behav Ther. 2007;38:412–425. doi: 10.1016/j.beth.2007.02.001. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

26. Viane I, Crombez G, Eccleston C, et al. acceptance of the unpleasant reality of chronic pain: effects upon attention to pain and engagement with daily activities. Pain. 2004;112:282–288. doi: 10.1016/j.pain.2004.09.008. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

27. Hayes SC, Strosahl KD, Wilson KG. Acceptance and commitment therapy: an experiential approach to behavior change. New York: Guilford Press; 1999. [Google Scholar]

28. Hayes S, Strosahl K, Wilson K. Acceptance and commitment therapy: the process and practice of mindful change. New York: Guilford Press; 2011. [Google Scholar]

29. Hayes SC, Follette VM, M. LM. Mindfulness and acceptance: expanding the cognitive-behavioral tradition. New York City: Guilford Press, 2004.

30. A-Tjak J, Davis ML, Morina N, et al. A meta-analysis of the efficacy of acceptance and commitment therapy for clinically relevant mental and physical health problems. Psychother Psychosom. 2015;84:30–36. doi: 10.1159/000365764. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

31. Forsyth JP, Eifert GH, Barrios V. Fear conditioning in an emotion regulation context: A fresh perspective on the origins of anxiety disorders. In: Craske MG, Hermans D, Vansteenwegen E, editors. From basic processes to clinical implications. Washington, D.C: American Psychological Association; 2006. [Google Scholar]

32. Arch JJ, Eifert GH, Davies C, Plumb JC, Rose RD, Craske MG. Randomized clinical trial of cognitive behavioral therapy versus acceptance and commitment therapy for the treatment of mixed anxiety disorders. J Consult Clin Psychol. 2012;80(5):750–765. doi: 10.1037/a0028310. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

33. Craske MG, Niles AN, Burklund LJ, et al. Randomized controlled trial of cognitive behavioral therapy and acceptance and commitment therapy for social anxiety disorder: outcomes and moderators. J Clin Consult Psychol. 2014;82(6):1034–1048. doi: 10.1037/a0037212. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

34. Roemer L, Orsillo SM, Salters-Pedneault K. Efficacy of an acceptance-based behavior therapy for generalized anxiety disorder: Evaluation in a randomized controlled trial. J Consult Clin Psychol. 2008;76(7):1083–1089. doi: 10.1037/a0012720. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

35. Hayes-Skelton SA, Roemer L, Orsillo SM. A randomized clinical trial comparing an acceptance-based behavior therapy to applied relaxation for generalized anxiety disorder. J Consult Clin Psychol. 2013;33(8):965–978. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]

36. Landy LN, Schneider RL, Arch JJ. Acceptance and commitment therapy for the treatment of anxiety disorders: a concise review. Curr Opin Psychol. 2014;2:70–74. doi: 10.1016/j.copsyc.2014.11.004. [CrossRef] [Google Scholar]

37. McCracken LM, Vowles KE, Eccleston C. Acceptance-based treatment for persons with complex, long standing chronic pain: a preliminary analysis of treatment outcome in comparison to a waiting phase. Behav Res Ther. 2005;43(10):1335–1346. doi: 10.1016/j.brat.2004.10.003. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

38. Vowles KE, McCracken LM. Acceptance and values-based action in chronic pain: a study of treatment effectiveness and process. J Consult Clin Psychol. 2008;76(3):397–407. doi: 10.1037/0022-006X.76.3.397. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

39. Vowles KE, Wetherell JL, Sorrell JT. Targeting acceptance, mindfulness, and values-based action in chronic pain: findings of two preliminary trials of an outpatient group-based intervention. Cogn Behav Pr. 2009;16(1):49–58. doi: 10.1016/j.cbpra.2008.08.001. [CrossRef] [Google Scholar]

40. McCracken LM, Gutierrez-Martinez O. Processes of change in psychological flexibility in an interdisciplinary group-based treatment for chronic pain based on acceptance and commitmenttherapy. Behav Res Ther. 2011;49(4):267–274. doi: 10.1016/j.brat.2011.02.004. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

41. Ruiz FJ. A review of acceptance and commitment therapy (ACT) empirical evidence: correlational, experimental psychopathology, component, and outcome studies. Int J Psychol Psychol Ther. 2010;10:125–162. [Google Scholar]

42. Gregg JA, Callaghan GM, Hayes SC, Glenn-Lawson JL. Improving diabetes self-management through acceptance, mindfulness, and values: a randomized controlled trial. J Consult Clin Psychol. 2007;75:336–343. doi: 10.1037/0022-006X.75.2.336. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

43. Sheppard SC, Forsyth JP, Hickling EJ, Bianchi J. A novel/application of acceptance and commitment therapy for psychosocial problems Associated with multiple sclerosis. Int J MS Care. 2010;12:200–206. doi: 10.7224/1537-2073-12.4.200. [CrossRef] [Google Scholar]

44. Lillis J, Hayes SC, Bunting K, Masuda A. Teaching acceptance and mindfulness to improve the lives of the obese: a preliminary test of a theoretical model. Ann Behav Med. 2009;37:58–69. doi: 10.1007/s12160-009-9083-x. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

45. Dindo L. One-day acceptance and commitment training workshops in medical populations. Curr Opin Psychol. 2015;2:38–42. doi: 10.1016/j.copsyc.2015.01.018. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

46. Mohr DC, Hart SL, Howard I, et al. Barriers to psychotherapy among depressed and nondepressed primary care patients. Ann Behav Med. 2006;32:254–258. doi: 10.1207/s15324796abm3203_12. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

47. Pietrzak RH, Johson DC, Goldstein MB, et al. Perceived stigma and barriers to mentalhealth care utilization among OEF-OIF veterans. Psychiatr Serv. 2009;60(8):1118–1122. doi: 10.1176/ps.2009.60.8.1118. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

48. Arcury TA, Gesler WM, Preisser JS, Sherman J, Spencer J, Perin J. The effects of geography and spatial behavior on health care utilization among the residents of a rural region. Health Serv Res. 2005;40(1):135–156. doi: 10.1111/j.1475-6773.2005.00346.x. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

49. Backenstrass M, Joest K, Frank A, et al. Preferences for treatment in primary care: a comparison of nondepressive, subsyndromal and major depressive patients. Gen Hosp Psychiatry. 2006;28:178–180. doi: 10.1016/j.genhosppsych.2005.10.001. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

50. Bell RA, Franks P, Duberstein PR, et al. suffering in silence: reasons for not disclosing depression in primary care. Ann Fam Med. 2011;9:439–446. doi: 10.1370/afm.1277. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

51. Robinson PJ, Strosahl KD. Behavioral health consultation and primary care: Lessons learned. J Clin Psychol Med Settings. 2009;16(1):58–71. doi: 10.1007/s10880-009-9145-z. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

52. Hawkes AL, Chambers SK, Pakenham KI, et al. Effects of a telephone-delivered multiple health behavior change intervention (CanChange) on health and behavioral outcomes in survivors of colorectal cancer: a randomized controlled trial. J Clin Oncol. 2013;31:2313–2321. doi: 10.1200/JCO.2012.45.5873. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

53. Bricker J, Wyszynski C, Comstock B, Heffner JL. Pilot randomized controlled trial of web-based acceptance and commitment therapy for smoking cessation. Nicotine Tob Res. 2013;15(10):1756–1764. doi: 10.1093/ntr/ntt056. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

54. Bricker JB, Bush T, Zbikowski SM, Mercer LD, Heffner JL. Randomized trial of telephone-delivered acceptance and commitment therapy versus cognitive behavioral therapy for smoking cessation: a pilot study. Nicotine Tob Res. 2014;16:1446–1454. doi: 10.1093/ntr/ntu102. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

55. Bricker JB, Mull KE, Kientz JA, et al. Randomized, controlled pilot trial of a smartphone app for smoking cessation using acceptance and commitment therapy. Drug Alcohol Depend. 2014;143:87–94. doi: 10.1016/j.drugalcdep.2014.07.006. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

56. Hernández-López M, Luciano MC, Bricker JB, Roales-Nieto JG, Montesinos F. Acceptance and commitment therapy for smoking cessation: a preliminary study of its effectiveness in comparison with cognitive behavioral therapy. Psychol Addict Behav. 2009;23(4):723–730. doi: 10.1037/a0017632. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

57. Arch JJ, Mitchell J. An acceptance and commitment therapy group intervention for cancer survivors experiencing anxiety at reentry. Psychooncology. 2016;25(5):610–615. doi: 10.1002/pon.3890. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

58. Dahl J, Wilson KG, Nilsson A. Acceptance and commitment therapy and the treatment of persons at risk for long-term disability resulting from stress and pain symptoms: A preliminary randomized trial. Behav Ther. 2004;35(4):785–801. doi: 10.1016/S0005-7894(04)80020-0. [CrossRef] [Google Scholar]

59. Bach P, Gaudiano BA, Hayes SC, Herbert JD. Acceptance and commitment therapy for psychosis: intent to treat, hospitalization outcome and mediation by believability. Psychosis. 2013;5(2):166–74. doi: 10.1080/17522439.2012.671349. [CrossRef] [Google Scholar]

60. Juarascio AS, Forman EM, Herbert JD. Acceptance and commitment therapy versus cognitive therapy for the treatment of comorbid eating pathology. Behav Modif. 2010;34:175–190. doi: 10.1177/0145445510363472. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

61. Rosen GM, Davison GC. Psychology should list empirically supported principles of change (ESPs) and not credential trademarked therapies or other treatment packages. Behav Modif. 2003;27(3):300–312. doi: 10.1177/0145445503027003003. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

62. Hayes SC, Luoma JB, Bond FW, et al. Acceptance and commitment therapy: model, processes and outcomes. Behav Res Ther. 2006;44:1–25. doi: 10.1016/j.brat.2005.06.006. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

63. Kashdan TB, Rottenberg J. Psychological flexibility as a fundamental aspect of health. Clinical Psychol Rev. 2010;30(7):865–878. doi: 10.1016/j.cpr.2010.03.001. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

64. Bond FW, Hayes SC, Baer RA, et al. Preliminary psychometric properties of the Acceptance and Action Questionnaire–II: a revised measure of psychological inflexibility and experiential avoidance. Behav Ther. 2011;42(4):676–688. doi: 10.1016/j.beth.2011.03.007. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

65. Hayes SC, Livein ME, Plumb-Vilardaga J, Villatte JL, Pistorello J. Acceptance and commitment therapy and contextual behavioral science: Examining the progress of a distinctive model of behavioral and cognitive therapy. Behavior Ther. 2013;44(2):180–198. doi: 10.1016/j.beth.2009.08.002. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

66. Chawla N, Ostafin B. Experiential avoidance as a functional dimensional approach to psychopathology: an empirical review. J Clin Psychol. 2007;63(9):871–890. doi: 10.1002/jclp.20400. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

67. Greco LA, Lambert W, Baer RA. Psychological inflexibility in childhood and adolescence: development and evaluation of the Avoidance and Fusion Questionnaire for Youth. Psychol Assess. 2008;20(2):93. doi: 10.1037/1040-3590.20.2.93. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

68. Howe-Martin LS, Murrell AR, Guarnaccia CA. Repetitive nonsuicidal self-injury as experiential avoidance among a community sample of adolescents. J Clin Psychol. 2012;68(7):809–829. doi: 10.1002/jclp.21868. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

69. Venta A, Sharp C, Hart J. The relation between anxiety disorder and experiential avoidance in inpatient adolescents. Psychol Assess. 2012;24(1):240. doi: 10.1037/a0025362. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

70. Spinhoven P, Drost J, de Rooij M, van Hemert AM, Penninx BW. Is experiential avoidance a mediating, moderating, independent, overlapping, or proxy risk factor in the onset, relapse and maintenance of depressive disorders? Cogn Ther Res. 2016;40(2):150–163. doi: 10.1007/s10608-015-9747-8. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

71. McCracken LM. Learning to live with the pain: acceptance of pain predicts adjustment in persons with chronic pain. Pain. 1998;74(1):21–27. doi: 10.1016/S0304-3959(97)00146-2. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

72. Butler J, Ciarrochi J. Psychological acceptance and quality of life in the elderly. Qual Life Res. 2007;16(4):607–615. doi: 10.1007/s11136-006-9149-1. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

73. Dindo L, Turvey C, Marchman J, Recober A, O’Hara M. Depression and disability in migraine: the role of pain-acceptance and values-based living. Int J Behav Med. 2014;22(1):109–117. doi: 10.1007/s12529-014-9390-x. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

74. Berking M, Neacsiu A, Comtois KA, Linehan MM. The impact of experiential avoidance on the reduction of depression in treatment for borderline personality disorder. Behav Res Ther. 2009;47(8):663–670. doi: 10.1016/j.brat.2009.04.011. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

75. Dindo LN, Marchman J, Grindes H, Fiedorowicz JG. A brief behavioral intervention targeting mental health risk factors for vascular disease: a pilot study. Psychother Psychosom. 2014;84(3):183–185. doi: 10.1159/000371495. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

76. Wicksell RK, Olsson GL, Hayes SC. Psychological flexibility as a mediator of improvement in Acceptance and Commitment Therapy for patients with chronic pain following whiplash. Eur J Pain. 2010;14:1059–e1. [PubMed] [Google Scholar]

77. Bayliss EA, Bonds DE, Boyd CM, et al. Understanding the context of health for persons with multiple chronic conditions: Moving from what is the matter to what matters. Ann Fam Med. 2014;12(3):260–269. doi: 10.1370/afm.1643. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

78. LeRoy L, Bayliss E, Domino M, et al. The Agency for Healthcare Research and Quality Multiple Chronic Conditions Research Network. Med Care. 2014;52:S15–S22. doi: 10.1097/MLR.0000000000000095. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

79. Dindo L, Recober A, Marchman JN, et al. One-day behavioral treatment for patients with comorbid depression and migraine: a pilot study. Behav Res Ther. 2012;50:537–543. doi: 10.1016/j.brat.2012.05.007. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

80. Dindo L, Recober A, Marchman J, O’Hara M, Turvey C. One-Day Behavioral Intervention in Depressed Migraine Patients: Effects on Headache. Headache. 2014;54:528–538. doi: 10.1111/head.12258. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

Leave a Comment