ADHD: Pengertian, Gejalanya, dan Berbagai Penanganannya

Home // Istilah Psikologi // ADHD: Pengertian, Gejalanya, dan Berbagai Penanganannya

Kali ini kita akan membahas pengertian ADHD. ADHD itu apa, seperti apa gejala pada anak ADHD, penanganannya, dan jurnal terkait ADHD juga akan dibahas di sini.

 

ADHD itu Apa?

Sebenarnya ADHD itu apa? ADHD adalah gangguan mental berupa tidak mampu memperhatikan, hiperaktif, dan impulsif, yang berkelanjutan dan mengganggu fungsi serta perkembangan seseorang.

Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) adalah salah satu gangguan mental yang paling umum dialami anak-anak. Gejala ADHD meliputi inatensi (tidak mampu menjaga fokus), hiperaktif (gerakan berlebihan yang tidak sesuai situasi) dan impulsif (tindakan tergesa-gesa yang terjadi tanpa berpikir).

Dalam DSM V, ADHD ditulis dengan kode 314.01. Dalam ICD 10, ADHD dimasukkan ke dalam kode F90.1, sementara ADHD di PPDGJ ditulis dengan kode F90.1 dengan nama Gangguan Tingkah Laku Hiperkinetik.

ADHD dianggap sebagai permasalahan kronis yang melemahkan. Ini berdampak pada seseorang dalam banyak aspek kehidupan. Misalnya prestasi di sekolah, hubungan dengan orang lain, dan fungsi keseharian (Harpin, 2005).

ADHD menurunkan self-esteem dan fungsi sosial anak (Harpin et al., 2016). Dewasa dengan ADHD mungkin akan mengalami self esteem yang buruk, sensitif terhadap kritik, dan peningkatan rasa rendah diri yang bisa berasal dari tingkat kritik yang lebih tinggi sepanjang hidup (Beaton, et al., 2022).

Diperkirakan 8,4% anak-anak dan 2,5% orang dewasa menderita ADHD (Danielson, 2018; Simon, et al., 2009). ADHD biasanya baru didiagnosa usia sekolah, ketika gangguan ini sudah berdampak di kelas attau mengganggu aktivitas belajar.

Biasanya ADHD lebih sering terdiagnosa pada anak laki-laki. Meski begitu perempuan juga punya kans yang sama dalam mengalami ADHD. Ini karena hiperaktif pada anak laki-laki lebih terlihat.

 

Seperti Apa Gejala dan Diagnosis ADHD?

Banyak anak yang memang dasarnya sulit duduk diam. Ada juga yang tidak bisa sabar mengantri, sulit memperhatikan, selalu gelisah, dan nakal. Tapi anak-anak seperti ini belum tentu punya ADHD.

Anak ADHD memilki gejala hiperaktif, impulsif, dan sulit memperhatikan yang lebih signifikan. Gejala-gejala ini juga lebih mencolok dibanding anak biasa.

Pada anak ADHD, gejala-gejala ini bukanlah muncul dari kenakalan atau tidak bisa diberi tahu.

Ada tiga jenis utama ADHD:

• ADHD yang didominasi dengan sulit memberi perhatian.

• ADHD yang didominasi dengan sikap hiperaktif.

• Gabungan kedua jenis di atas.

Diagnosa baru bisa ditegakkan bila gejala sudah terjadi selama enam bulan.

Untuk diagnosa yang paling jelas, gejala harus ada sebelum anak berusia 12 tahun dan menyebabkan kesulitan di lebih dari satu situasi. Misalnya, gejalanya tidak hanya terjadi di rumah tapi juga di sekolah.

Misalnya, kalau sikap hiperaktif hanya terjadi di rumah tapi kalau di sekolah bisa ditenangkan, maka bukan ADHD. Atau kalau bersikap hiperaktif saat bersama ibu tapi kalau sama orang lain bisa tenang, maka bukan ADHD.

 

ADHD jenis inatentif

Inatentif mengacu pada kesulitan anak untuk fokus pada satu aktivitas. Untuk anak ADHD jenis inatentif, minimal harus ada lima gejala berikut.

• Tidak memperhatikan detail atau membuat kesalahan ceroboh dalam tugas sekolah atau pekerjaan.

• Memiliki masalah untuk tetap fokus pada tugas atau aktivitas, seperti selama kuliah, percakapan, atau membaca dalam waktu lama.

• Saat diajak bicara fokus mata dan tubuhnya mengarah ke mana-mana.

• Tidak mengikuti perintah, tidak menyelesaikan PR, dan tidak menyelesaikan tugas yang diminta (mungkin memulai tetapi kehilangan fokus).

• Memiliki masalah dalam mengorganisir tugas dan pekerjaan (misalnya, tidak mengatur waktu dengan baik; PR berantakan dan tidak teratur; melewatkan tenggat waktu).

• Menghindari atau tidak menyukai tugas-tugas yang membutuhkan fokus lama.

• Sering kehilangan barang-barang yang dibutuhkan untuk tugas atau kehidupan sehari-hari, seperti buku, kunci, dompet, ponsel dan kacamata.

• Fokusnya mudah teralihkan.

Melupakan tugas sehari-hari. Remaja dan orang dewasa yang lebih tua mungkin lupa membalas panggilan telepon, membayar tagihan, dan menepati janji.

 

ADHD Tipe hiperaktif/impulsif

Hiperaktif mengacu pada gerakan berlebihan seperti gelisah, energi yang tidak habis-habis, tidak bisa duduk diam, dan banyak bicara. Impulsivitas mengacu pada keputusan atau tindakan yang diambil tanpa memikirkan akibatnya. Untuk diagnosis jenis ADHD ini, setidaknya harus sering mengalami enam dari sembilan gejala berikut:

• Gelisah dengan atau mengetuk tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi.

• Tidak bisa duduk diam.

• Berlari atau memanjat di tempat yang tidak semestinya.

• Tidak bisa bermain atau melakukan aktivitas santai dengan tenang.

• Selalu bergerak, seolah-olah di badannya ada mesin dinamo.

• Terlalu banyak bicara.

• Memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai (misalnya mungkin menyelesaikan kalimat orang, tidak sabar untuk berbicara dalam obrolan).

• Mengalami kesulitan menunggu giliran, seperti saat mengantri.

• Menyela atau mengganggu orang lain (misalnya, memotong percakapan, permainan atau aktivitas, atau mulai menggunakan barang orang lain tanpa izin). Remaja dan orang dewasa yang lebih tua bisa mengambil alih apa yang dilakukan orang lain tanpa diminta.

 

ADHD gabungan

Tipe ADHD ini didiagnosis ketika memiliki gejala dari tipe inatentif dan hiperaktif/impulsif. Maka, anak ADHD yang punya jenis gabungan adalah yang punya inatentif dan hiperaktif yang sama-sama terlihat.

 

Di mana bisa memeriksa anak dengan gejala ADHD?

ADHD biasanya didiagnosis oleh rumah sakit dengan poli kejiwaan atau klinik dengan dokter spesialis psikiatri. Evaluasi dari psikiater termasuk deskripsi gejala dari pasien dan orang terdekat, pemberian kuesioner kepada anak, pengasuh dan guru, riwayat psikiatri dan medis lengkap, riwayat keluarga, dan informasi mengenai pendidikan, lingkungan, dan pengasuhan.

Psikiater juga bisa meminta evaluasi medis lain untuk memastikan ini adalah ADHD dan bukan kondisi medis lainnya. Ini karena ada kondisi lain yang mirip ADHD. MIsalnya gangguan belajar, gangguan mood, kecemasan, penggunaan zat, cedera kepala, kondisi tiroid, dan beberapa obat seperti steroid (Austerman, 2015).

ADHD bisa muncul bersamaan dengan kondisi kesehatan mental lainnya, seperti gangguan perilaku, gangguan kecemasan, dan gangguan belajar (Austerman, 2015). Dengan demikian, evaluasi psikiatri yang lengkap sangat penting.

Tidak ada tes darah khusus atau pencitraan rutin untuk diagnosis ADHD.

Kadang-kadang, pasien bisa dirujuk untuk tes psikologis tambahan (seperti tes neuropsikologis atau psikoedukasi) atau menjalani tes berbasis komputer untuk menilai keparahan gejala.

 

Apa Penyebab Anak ADHD?

Para ilmuwan belum mengidentifikasi penyebab spesifik ADHD. Ada bukti kalau genetika berkontribusi terhadap ADHD dan beberapa gen telah dikaitkan dengan gangguan tersebut. Tapi belum ada gen spesifik yang dipastikan sebagai penyebabnya. Namun, anak yang punya anggota keluarga dengan ADHD punya kans memiliki ADHD lebih besar.

Ada perbedaan anatomi otak anak dengan ADHD dibandingkan dengan anak lain tanpa kondisi tersebut. Misalnya, anak-anak dengan ADHD punya volume materi abu-abu dan putih di otak yang lebih sedikit. Dan ada aktivasi wilayah otak yang berbeda selama tugas-tugas tertentu (Pliszka, 2007). Penelitian lebih lanjut telah menunjukkan kalau lobus frontal, nukleus berekor, dan vermis serebelar otak mempengaruhi pada ADHD (Tripp & Wickens, 2009).

Beberapa faktor non-genetik juga punya dampak. Misalnya berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, paparan za kimia (alkohol, merokok, timbal, dll.) selama kehamilan, dan stres yang ekstrem.

 

Seperti Apa Penanganan Psikologis Anak ADHD?

Beberapa penanganan psikologis bisa membantu individu dengan ADHD untuk mengelola gejala dan memaksimalkan fungsi keseharian.

Biasanya keluarga sudah memendam rasa tidak suka, frustrasi, dan marah pada anak dengan ADHD. Penanganan dan psikoedukasi juga perlu diberikan pada keluarga. Ini supaya keluarga menerima keadaan anak dengan ADHD dan membantu dia beraktivitas secara maksimal.

Psikolog juga akan membantu anak dan orang tuanya mengembangkan keterampilan, sikap, dan cara baru untuk berhubungan satu sama lain.

Makanya, semua jenis terapi untuk anak dan remaja dengan ADHD membutuhkan peran aktif orang tua. Psikoterapi yang hanya fokus pada anak tanpa melibatkan orang tua tidak bisa mengelola perilaku ADHD secara efektif.

Kita akan bahas macam-macam terapi psikologi untuk ADHD.

 

Terapi Perilaku atau Behavioral Therapy

Terapi perilaku adalah jenis psikoterapi yang membantu seseorang mengubah perilakunya.

Terapi jenis ini menggunakan hal-hal yang sifatnya praktikal. Misalnya membantu mengatur tugas di rumah atau mengajarkan mengorganisir tugas sekolah. Atau bersama-sama membahas peristiwa yang sulit dilalui secara emosional.

Terapi perilaku juga mengajarkan seseorang dalam:

• memantau perilaku mereka sendiri

• memberikan pujian atau penghargaan kepada diri sendiri karena bertindak dengan cara yang diinginkan, seperti mengendalikan amarah atau berpikir sebelum bertindak

Orang tua, guru, dan anggota keluarga juga bisa memberi feedback tentang perilaku tertentu dan membantu menetapkan aturan yang jelas, daftar tugas, dan rutinitas terstruktur untuk membantu orang mengontrol perilaku mereka.

Psikolog juga bisa mengajari anak-anak keterampilan sosial, seperti bagaimana menunggu giliran, berbagi mainan, meminta bantuan, atau menanggapi ejekan. Selain itu bisa diajarkan pula cara membaca ekspresi wajah dan nada suara orang lain, dan bagaimana merespons dengan tepat.

 

Terapi Perilaku Kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy untuk Anak ADHD

Terapi perilaku kognitif membantu seseorang belajar untuk menyadari serta menerima pikiran dan perasaan untuk meningkatkan fokus.

Dalam terapi ini, psikolog juga mendorong orang dengan ADHD untuk menyesuaikan diri dengan perubahan hidup yang datang dengan penanganan. MIsalnya berpikir sebelum bertindak, atau menahan keinginan untuk mengambil risiko yang tidak perlu.

 

Terapi Keluarga dan Pernikahan

Terapi keluarga dan pernikahan bisa membantu anggota keluarga dan pasangan menemukan cara yang produktif untuk menangani perilaku yang mengganggu, mendorong perubahan perilaku, dan meningkatkan interaksi dengan orang dengan ADHD.

 

Pelatihan Parenting dan Manajemen Perilaku Orang Tua

Pelatihan Parenting dan Manajemen Perilaku Orang Tua mengajarkan orang tua keterampilan untuk mendorong dan menghargai perilaku positif pada anak-anak mereka.

Orang tua akan dilatih untuk menggunakan sistem reward dan reinforcement untuk mengubah perilaku anak, untuk memberikan umpan balik langsung dan positif pada perilaku yang ingin mereka dorong, dan untuk mengabaikan atau mengarahkan kembali perilaku yang ingin mereka hindari.

 

Teknik Pengelolaan Stres

Teknik pengelolaan stres bisa bermanfaat bagi orang tua dari anak ADHD dengan meningkatkan kemampuan mereka untuk menghadapi frustrasi sehingga mereka bisa menghadapi perilaku anak dengan lebih tenang.

Support group bisa membantu orang tua dan keluarga terhubung dengan orang lain dengan masalah dan kekhawatiran yang sama. Kelompok sering bertemu secara teratur untuk berbagi frustrasi dan keberhasilan, untuk bertukar informasi tentang spesialis dan strategi yang direkomendasikan, dan untuk berbicara dengan para ahli.

 

ADHD dan Dewasa

Banyak anak yang didiagnosis dengan ADHD akan terus memiliki sejumlah gejala tersebut sampai dewasa.

Mungkin akan ada ciri-ciri yang butuh perawatan berkelanjutan (Pliszka, 2007). Namun, bisa juga diagnosis ADHD berhenti setelah masa kanak-kanak.

Yang sering terjadi adalah orang dewasa dengan ADHD tidak menyadari kalau mereka dulu memiliki gangguan itu. Evaluasi komprehensif biasanya mencakup tinjauan gejala masa lalu dan saat ini, pemeriksaan medis dan riwayat, dan penggunaan skala penilaian khusus dewasa.

Orang dewasa dengan ADHD diobati dengan obat-obatan, psikoterapi atau kombinasi. Strategi manajemen perilaku, seperti meminimalkan gangguan dan meningkatkan struktur dan organisasi, dan dukungan dari anggota keluarga dekat juga bisa membantu.

Nah, kira-kira itu pengertian ADHD dan penanganannya. Pembahasan mengenai ADHD pada orang dewasa akan dibahas lain kali ya.

 

Referensi terkait ADHD:

https://www.nimh.nih.gov/health/topics/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd

American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5). 2013.

Austerman J. ADHD and behavioral disorders: Assessment, management, and an update from DSM-5. Cleve Clin J Med. 2015 Nov;82(11 Suppl 1):S2-7.

Beaton, D. M., Sirois, F., & Milne, E. (2022). Experiences of criticism in adults with ADHD: A qualitative study. PloS one, e0263366.

Danielson, M.L., et al.Prevalence of Parent-Reported ADHD Diagnosis and Associated Treatment Among U.S. Children and Adolescents, 2016. Journal of Clinical Child & Adolescent Psychology, Volume 47, 2018 – Issue 2.

Harpin VA. (2005). The effect of ADHD on the life of an individual, their family, and community from preschool to adult life. Arch Dis Child. 90 Suppl 1(Suppl 1):i2-7.

Harpin V, Mazzone L, Raynaud JP, Kahle J, Hodgkins P. (2013). Long-Term Outcomes of ADHD: A Systematic Review of Self-Esteem and Social Function. J Atten Disord. 20(4):295-305.

Pliszka S; AACAP Work Group on Quality Issues. Practice parameter for assessing and treating children and adolescents with attention-deficit/hyperactivity disorder. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2007 Jul;46(7):894-921.

Simon, V. , Czobor, P. , Bálint, S. , et al: :Prevalence and correlates of adult attention-deficit hyperactivity disorder: a meta-analysis. Br J Psychiatry194(3):204–211, 2009

Tripp, G., Wickens, J.R. Neurobiology of ADHD. Neuropharmacology. 2009 Dec;57(7-8):579-89.

Wolraich, M.L., Hagan, J.F.J., Allan, C., et al. Clinical Practice Guideline for the Diagnosis, Evaluation, and Treatment of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Children and Adolescents. Pediatrics. 2019;144(4).

 

Leave a Comment